Minggu, 03 Mei 2015

"Time Capsule"

“Sepertinya aku merindukan mereka..” Setelah gumaman kecil itu terbesit dalam hatiku, aku berjalan menuju sudut kamarku yang bisa di katakan luas, menggeser kotak usang berdebu lalu menekan beberapa digit password yang aku buat.
Aku tak tahu pasti, zaman modern ini menguntungkan kotak usang ku atau justru sebaliknya. Aku bersyukur masih bisa bertahan hidup di zaman ini, zaman dimana segalanya serba di- password, CCTV bukanlah hal yang aneh atau tergolong mewah seperti dulu, kita tak perlu lagi keluar rumah untuk membeli sesuatu karena di setiap pintu rumah telah di sediakan sebuah box, yang apabila kita menempelkan telapak tangan kita pada layar scan nya, maka akan muncul sebuah layar dalam bentuk hologram,  lalu dengan hanya menggerakkan sedikit jari tangan kita pada sesuatu yang kita inginkan, lalu keluarlah dia dari box itu dalam keadaan segar. Segar dalam artian, jika yang kita mau adalah fast food maka ia akan keluar dengan kepulan asap hangat, pertanda dia amat sangat fresh cook, yang lainnya silahkan bayangkan sendiri.
 Jalanan hanya di penuhi bus umum bertenaga surya. Tak ada lagi asap, karena keberadaannya tergantikan oleh uap panas yang mampu membuat manusia zaman sekarang malas keluar karena uap panas yang memenuhi jalan, lalu terciptalah box ajaib ini dengan termotivasi oleh kemalasan manusia. Ya, jika box ini ada di sepuluh tahun yang lalu pasti akan dikerumuni warga lalu disebut-sebut sebagai box ajaib, lalu mereka akan meminta.. Apa ya, aku lupa, pesugihan kah namanya? Setelah aku fikir-fikir aku manusia sepuluh tahun yang lalu memang konyol. Aku tak yak yakin aku termasuk kedalam nya atau tidak, tapi yang pasti aku merasa beruntung karena aku lahir di akhir abad 19, dan aku berusia belasan tahun di abad 20, lalu aku masih hidup saat dunia maju berlangkah-langkah lebih jauh menembus dimensi yang benar-benar  modern.
Aku merasa aku hidup di dunia yang aku impikan dimana setiap orang diberi kepercayaan dan kepercayaan selalu dijaga. Semuanya makmur, tak ada korupsi, tak ada adu mulut, tak ada banjir, berita-berita di televisi berisi tentang kemajuan-kemajuan yang ada di negara ini. Namun jika semuanya terlalu baik-baik saja akan tidak menyenangkan bukan? Konflik-konflik kecil tentunya masih eksis di dunia masa kini, namun tidak di besar-besarkan sebesar sepuluh tahun yang lalu. Apa aku terlihat  membanggakan zamanku sekarang dibandingkan sepuluh tahun yang lalu? Ya.. ini disebut maksud tersirat. Yang pasti sekarang aku merasa penyakit darah tinggiku sudah tenang bersama kenangan sepuluh tahun lalu, mungkin.  Aku tidak ingin membahas kemajuan zaman.
Aku memasukkan password melalui hologram yang muncul di atas kotak usangku. ‘81218’ Nomor unik itulah yang aku pilih di hologramku, perlahan box usang itu membuka tutupnya sendiri. Terdengar riuh dari dalam sana.
“Apa lagi yang akan kau lakukan?”
“Kami sempit, jangan tumpukkan sesuatu di atas kami!”
“Aku sudah tua, kenapa kau berikan aku tempat di dasar box?”
“Hey! Kenapa kau diam saja? Apa di zaman yang katamu maju ini manusia mulai bicara melalui batinnya?”
“Kau bodoh? Kami hanya butiran kecir masa kalian! Bukan butiran hati kalian!”
Aku tersenyum kecil mendengar keriuhan mereka,  masa lalu ku. Mengusap tanganku untuk membersihkan debu-debu halus yang menempel dengan cantiknya pada sisi box.
“Aku merindukan kalian..” Tiga kata pelanku membuat keriuhan itu berhenti, mereka tenang kembali. Aku menyingkirkan penutup box dan menatap mereka satu persatu. Mengambil salah satu dari mereka, sebuah uang yang aku dapat dari penjualan buku pertama ku.
“Kini semuanya baik-baik saja..” Aku mendekap uang kertas ringkih itu.
“Apa kau tidak berniat membelanjakan ku?” Tanyanya penuh harap
“Tidak, kau uang pertamaku.. Aku bahkan ingin membuatkanmu kotak terpisah dari mereka, mintalah permintaan lain.. Apa kau ingin aku memajangmu bersama figura-figura itu?” Aku menatap uang ku yang tercium lusuh.
“Taruh aku di dompetmu..” Katanya singkat.
“Tidak bisa.. Aku jarang memakai uang. Sekarang orang lebih suka memakai kartu, tak terkecuali aku. Jika kau ada di dompetku, kau akan lebih merasa kesepian.. Apa kau ingin ku pasang di figura?”
“Apa kau tidak bisa memberiku kepada ibumu saja? Pasti beliau akan mengunakanku..” Harapnya lagi.
“Tidak mungkin. Aku sudah memberikan teman-temanmu pada ibuku, aku sengaja menyisahkanmu sebagai kenangan manisku.. Apa kau sudah sesak di box ini? Kau ingin aku berikan kotak lain?” Aku masih mencoba meyakinkan uang seratus ribuan yang hapir menguning itu.
“Jangan.. Kalau begitu biarkan aku tetap tinggal di box ini.. ” Setelah kata terakhirnya aku meletakkan uangku kembali. Dengan sedikit mengaduk isi box ku, aku mencari sesuatu. Apa yang ingin aku cari pun aku tak tahu.
“Hey! Berhentilah kami pusing!” Sergah secarik kertas.
“Kau? Kau siapa?” Tanyaku.
“Kau tidak bisa membaca namaku?” Katanya sinis.
“Ah.. Kau kertas ujian milik orang itu..” Gumamku. “Bagaimana kau bisa ada di time capsulku? Apa dia yang memasukkanmu kesini?”
“Hei, jangan bercanda. Kau lupa? Kaulah yang mengambilku dari lacinya sebelas tahun yang lalu, saat kau kelas tiga. Kau ada jam eskul di kelas orang ini, dengan segenap kebohonganmu, kau ingin membuangku, nyatanya kau malah”
Stop! Sudah, aku ingat.. Lalu apa kau menyesal? Apa kau ingin aku buang dari sini?” Tanyaku pada secarik kertas ujian milik seseorang yang pernah menyita perasaanku saat di bangku SMA.
“Jangan, kau tega membiarkanku dimusnahkan dengan uap nuklir? Aku akan berubah bentuk menjadi asap yang bahkan tidak menyisahkan satu remah-remah kertaspun. Heuuhhh.. Membayangkannya saja aku sudah ingin menangis. Aku sudah cukup lama bertahan dengan identitas berbeda dari mereka yang berstatus milikmu.. Aku sudah merasa nyaman disini. Dan tolong..”
“Stop. Kau tidak seperti pemilik aslimu yang tidak banyak bicara ya.. Apakah sebelas tahun bersamaku tidak membuatmu merasa jadi milikku? Huh? Sekarang kau milikku, kertas cerewet.” Kataku, kertas itu tak mebgeluarkan celotehannya lagi.
Aku meletakkannya bersama uangku, lalu mulai mencari sesuatu lagi dalam time capsulku. Agak susah mencari kenangan sepuluh tahun lalu, mereka ada di bawah.  Aku terus mencari orang-orang dan masa lalu yang masuk daftar kerinduanku. Untuk sekedar kupeluk dan menyampaikan semuanya sangat baik-baik saja sekarang dan berterimakasih kepada mereka yang telah menjadi bagian kisahku dan kuberikan tempat istimewa di time capsulku.
“Sekarang apa yang kau cari?” Tanya sarung tangan rajutku.
“Jangan bilang kau mencari pemilikku di sini..” Desis kertas ujian itu.
“Bagaimana kau tahu?” Aku masih mencarinya di dalam kotak.
“Kau sangat mudah di tebak. Mana bisa kau menemukannya di sini? Kau bahkan tidak memiliki kisah bersamanya. Jangan harap.” Sinis kertas ujian itu.
“Aaah..”
“Ah! Dicky!” Aku menemukan foto Dicky yang mulai memburam, baunya pun sudah usang selayaknya kertas dari masa lalu. Dicky M. Prasetya, makhluk ciptaan Tuhan yang terkenal lewat boyband Indonesia era 2011, dia juga pernah bersarang dalam fikiranku beberapa tahun, bahkan aku pernah dibuat menangis olehnya.
“Apakabar.. ” Tanyaku mengusap foto usang Dicky.
“Pasti dia baik dengan kehidupan keluarga dan perusahaan desainnya sekarang.”
“Ahh.. Iya” Gumamku.
“Apa kau sempat bertemu dengannya, sesuai mimpimu dua belas tahun lalu yang akan menemui bentuk asliku lima tahun mendatang? Come on, ini sudah lewat lima tahun kan?”
“Aku lupa itu..”
“Kau melupakan ku?”
“Hmm.. Aku menggantimu dengan orang yang nyata, tadinya. Tapi.. Mungkin kau sudah dengar cerita dari kertas ujian itu.. Lalu aku menggantikanmu dengan yang semu lagi, lalu sekarang aku dengan manusia yang senyata-nyatanya..” Kataku pasti.
“Apa setelah ini kau akan mengganti manusia nyata milikmu dengan yang semu lagi?”
“Hey, kau ingin kubuang?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Aku lihat pergerakan roda percintaanmu hanya sekitar manusia semu dan manusia nyata saja. Tidak menutup kemungkinan kan, jika roda itu akan berputar lagi?”
“Jangan mendoakan aku seperti itu, Dicky! Dulu aku labil, Dicky..”
“Apa sekarang kau fikir kau tidak labil? Kau masih.”
“Aiss, sudahlah.” Aku akan mengumpulkan Dicky usang bersama uang dan kertas ujian.
“Hey! Tak bisakah kau memperbaharuiku?”
“Ku bodoh? Jika kau baru berarti kau bukan kenangan. Sudahlah.” Sekarang aku benar benar menyatukan Dicky dengan mereka.
“Sepatu?” Aku mengambilnya dan mengusap debunya.
“Hai, Intan.. Apa kabar, apa ukuran kakimu masih sama dengan empat belas tahun yang lalu?” Tanyanya.
“Sepatu dari bapak.. Empat belas tahun? Setua itukah umurmu?” Kataku terperangah.
“Jika aku manusia, aku masih dalam masa manis-manisnya.” Katanya percaya diri. Iya, dia benar. Ku tatap sepatu ini, berwarna putih dominan dengan sedikit corak biru tua berbentuk garis, uniknya sepatu ini dia memiliki wedges di belakangnya, yang akan membuatku terlihat lebih tinggi. Wedges itu telah memiliki lubang besar dibawahnya sejak aku kelas tiga SMA, dan dari situlah aku menyerah dan berhenti untuk memakainya. Aku tidak ingin menyakiti sepatu hadiah dari mendiang bapakku. Setelah aku fikir-fikir bapak keren juga ya saat itu, beliau memberiku sepatu kets ber-wedges untuk aku yang kurang tinggi. Hehehe. Aku mengelap punggiran sepatuku dengan tissu. Menghilangkan noda-noda cokelat karena debu.
“Aku tak yakin, tapi ukuran kakiku tidak bertambah sepertinya.” Aku akan menjajal-lagi- sepatu unik ini. Namun sebuah raungan dari dalam time capsulku membuatku tidak jadi memasukkan sepatu itu ke kakiku. Time capsulku berantakan.
“Apa ini? Kenapa berantakan? Suara apa itu?” Kataku.
“Kau diamlah, ruang tamu rumah lama mu ini cukup sensitif saat kau menyebut kata bapak.” Aku terdiam.
Aku teringat akan pagi yang dingin, saat itu hari Selasa, 13 Maret 2012.. Ibuku menelpon, lalu aku lari tergopoh-gopoh dari dapur meninggalkan pekerjaan dapurku. Lalu sesaat kemudian aku melempar handphone dan mulai menangis histeris setelah mendengar bapakku anfal. Intan bodoh yang saat itu masih setengah sadar dari tidur lalu akan memasak langsung menyimpulkan bahwa anfal adalah kata lain dari sakaratul maut. Bapakku akan dibawa pulang ke rumah abadinya. Begitulah fikirku. Tetanggaku yang mendengar aku histeris langsung menggedor-gedor pintuku, dengan nada memohon aku minta diantar ke klinik tempat bapak di rawat sejak semalam. Lalu seorang tetanggaku yang lain datang menenangkanku,
“Kamu jangan nangis ya, ayo ikut oom. Kamu jangan nagis.” Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku keluar dari rumah dengan jarak yang terbilang jauh tanpa menggunakan jilbabku.’ Maaf pak, maafin aku gak pake jilbab.’ Aku meronta dalam hatiku sendiri.
Setelahnya aku mendapati ibuku yang terduduk di lantai dengan lemas selagi bapakku yang terus dipompa oksigen melalui mulutnya dan tangan dokter yang terus melakukan  CPR –Cardiopulmonary Resuscitation- dengan tangan karena klinik bodoh ini tidak dilengkapi dengan defibrilator. Saat itu aku terus mengutuk klinik ini melihat bapakku yang sedang diperjuangkan hidupnya.
“Gak papa.. Bapak pasti gak papa..” Mulutku terus bicara hal yang sama saat mereka sedang melakukan CPR. Meyakinkan diriku sendiri bahwa mukzizat Tuhan pasti ada. Namun mukzizat yang sering aku lihat di sinetron itu ternyata bulshit, aku benar-benar terbodohi oleh acting mereka. Bapakku benar-benar menutup mata untuk selamanya di pagi itu. Menangis pun tak sanggup. Kuhampiri ibuku yang menangis, di lantai. Tak ada kata yang aku ucapkan, kecuali gerakan tanganku yang memeluknya. Lalu ruangan tempat bapakku pergi menghadap sang Khalik mulai didatangi banyak orang. Tak sedikit teman bapak yang menangis sampai terdengar suaranya. Aku di sini bahkan tidak bisa menangis lagi. Air mataku tidak mampu keluar.
“Maaf ya bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu.. Sepertinya bapak ada penyakit jantung..” Dokter perempuan itu memeluk ibuku yang lemas di lantai.
“Jangan di tutup.. Kasian bapak gak bisa nafas..” Kataku pelan. Aku membuka kembali kain yang menutupi bapak penuh hingga wajahnya. Memeluknya untuk terakhir kali, menangis diam-diam sambil mendengar desisan kecil yang keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Aku berfikir bapakku masih bernafas, tapi ternyata itu adalah oksigen yang keluar lagi setelah sempat di pompa ke dalam tubuhnya. Organ dalam bapak benar-benar sudah tidak berfungsi.  Aku masih menanggalkan kepalaku di atas dada bapak. Beliau meninggal dalam keadaan yang benar-benar bugar. Tidak terlihat kurus, sedikitpun tidak. Bapak masih seperti hari sebelumnya saat beliau masih terbuka matanya, masih bernafas, masih menjemputku pulang sekolah, bahkan saat masih bertenaga untung menendang pintu kamarku agar aku terbangun.
“Tan, pulang ya.. Siapin baju..” Dalam tangis ibuku berkata seperti itu.
“Gak mau..” Aku menggandeng ibuku, bermaksud mengajaknya ikut bersamaku.
“Ayo, Tan..” Aku diajak pulang oleh keponakan bapak. Tak hentinya aku terisak menahan tangis di perjalananku pulang. Sampai di ruang tamu, beberapa tetanggaku sudah ada du rumah untuk membersihkan rumahku.
“Yang sabar ya nduk..” Seseorang mengusap punggungku, aku tidak tahu siapa karena mataku cukup buram tergenang air mata. Aku dipeluk lagi. Aku ingin menangis keras-keras, Ya Tuhan.. Aku mendudukkan diriku di ruang tamu, membiarkan air mataku tumpah. Lalu aku beranjak ke kamarku, duduk lagi masih belum percaya kejadian pagi ini. Aku masih percaya bahwa ini adalah sebuah mimpi. Aku mulai memasukkan bajuku, lalu baju ibuku, lalu beberapa potong baju bapakku, lalu sedikit baju adikku. Aku masih berfikir saat sudah sampai di kampung bapak akan bangun. Itulah yang terngiang-ngian dalam fikiranku.
Aku menyeka air mataku, lalu mulai memeluk ruang tamuku. “Maaf, sudah membuatmu meraung-raung. Apa kau tidak lelah? Sudah. Semuanya sudah baik-baik saja.. Kami semua sudah ikhlas.. Kau juga harus meng-ikhlaskan bapak..” Suaraku bergetar meredam sisa-sisa tangisanku.
Mereka yang ada di dalam box juga ikut menangis, menyimak cerita lalu yang cukup menyakitkan untukku.
“Hei, kenapa kalian menangis? Apa kalian ingin time capsulku basah lalu kebanjiran?”
“Kami tidak tahu kau sekuat ini..” Kata buku diary usangku.
“Kau tidak tahu? Bahkan aku sering bercerita padamu, kau pelupa ya?”
“Kau tidak bercerita padaku tentang bapakmu..” Katanya lagi.
“Aku bercerita pada diriku sendiri, aku tidak ingin membagi kesedihan ini pada siapapun..” Jawabku.
“Ruang tamu rumahmu?”
“Dia saksi..” Kataku lagi.
“Intan, apakabar ibumu?” Tanya ruang tamu. “Seminggu setelah kepergian bapakmu, ibumu sering duduk termenung di sini, matanya melihat TV tapi fikirannya jauh dari TV.” Lanjutnya.
“Beliau sudah sangat baik-baik saja sekarang. Kami semua sudah sangat ikhlas..” Aku tersenyum lalu mulai mencari sesuatu lagi di time capsulku.
“Kenapa kalian tidak membuat time machine saja, biar flashbacknya lebih nyata, sehingga tidak perlu menumpuk kami di  tempat sempit ini..” Oceh tas kecilku. Kata-katanya membuatku berhenti mencari sesuatu itu lalu duduk di depan box ini.
“Mana bisa waktu berputar ke belakang kecuali dengan kuasa Tuhan, kau bodoh! Walaupun kami sangat modern, kami selalu dan semakin menjunjung sila pertama Pancasila, kami tidak akan mungkin melangkahi kuasa Tuhan.” Mereka dan tas kecilku diam.
“Kalau kalian lelah aku tumpuk di sini, apakah kalian ingin aku keluarkan satu persatu, lalu bebas ke mana saja dan menikmati zaman kami? Tapi aku tidak yakin bisa memasukkan kalian kembali dengan potongan-potongan cerita yang lengkap. Ya, kalian tahu aku pelupa, dan kalian juga tidak bisa masuk ke dalam time capsul ini sendiri kaan?” Aku mendengar mereka mulai berbisik-bisik.
 “Aku tidak yakin jika kalian keluar kalian tidak akan mengacak-acak isi hariku, atau bahkan mengacak-acak hubunganku dengan dia saat ini... AH! Atau kalian ingin aku bersihkan saja dari time capsul ini? Lalu aku akan mengganti kalian dengan kenanganku bersamanya yang pastinya tidak akan seberisik kalian..” Aku bermaksud meledek mereka. Hahaha
“Hey! Berhentilah bicara hal mengerikan itu! Kami tidak punya tempat berlindung, bodoh!” Tile scrabble pertamaku yang berhuruf I dengan 1 nilai itu terdengar cemas.
“Yasudah, kalau begitu syukurilah box usang ini..”
“Lalu,  apa kau akan menumpuk kenanganmu bersamanya di sini?” Tanya uangku.
“Lalu, apa aku harus membeli box baru untuk kenanganku yang baru?” Aku balas bertanya.
“Jangan! Kau pasti akan melupakan kami, biarkan saja kenangan baru mu bersama kami supaya kami saling mengenal lalu bersatu.” Sergah almamater sekolahku.
“Aku tak yakin, jika kalian tidak akan menyiksa kenangan baruku..”
“Hey! Kami dibentuk oleh hari-hari bodohmu, apa di masa lalu kau pernah menyiksa temanmu?” Tanya kaus kakiku yang sudah sobek.
“Apa otak kalian di zaman ini sudah tidak perlu digunakan untuk memikirkan masa lalu? Waahhh, sombong sekali. Mengapa kau tidak masukkan saja otakmu bersama kami di box ini?” Kata-kata dari pulpenku membuatku ingin membuangnya ke tempat peleburan sampah.
“Hey, bodoh! Berhenti mengomel macam-macam.  Jika otakku masuk time capsul ini, aku harus menyimpan fikiranku di mana? Di perut? Lalu bagaimana dengan sesuatu yang aku makan? Kau gila?”
“Lalu apa sebutan untuk orang yang telah menciptakan kami? Tidak waras?” Balas jam tanganku.
“Sudahlah, aku hanya akan meninggalkan sedikit kenanganku di hari kemarin bersamanya disini. Hanya sedikit, aku yakin tidak akan membuat kalian begitu sesak. Sisanya, tidak akan ada yang menjadi kenangan, aku akan merekamnya sebagai moment. Karena kami berdua akan langgeng selamanya, kami berdua tidak akan menjadi kenangan seperti, ini, ini, dan kau, benda-benda masa lalu...” Aku menunjukk gelas, gelang dan jam tanganku yang rautnya berubah kesal.
“Lalu, di mana kau akan merekam moment-moment mu?” Tanya penghapus dekilku.
“Di mataku, di otakku, di hatiku, di aliran darahku, di bibirku..”
“Jika semuanya sudah penuh?” Potong boneka kelinciku.
“Ohh, mungkin aku harus membeli box lagi yang lebih besar, moment capsul..”
“Jangan pernah lakukan itu! Aku yakin kau akan melupakan kami.” Seru pesawat kertas pertama hasil tanganku.
“Kau pelupa! Bisa-bisa kau membuang kami bersama sampah kertasmu!” Tambah kamus Bahasa Korea ku.
“Huwahh, andaikan aku punya tangan pasti aku sudah menjambak rambutmu hingga rontok..” Geram sapu tanganku.

‘cklekk’

Akhirnya aku menutup time capsulku, tersenyum legam mendapati semua baik-baik saja, kecuali ruang tamuku yang masih sedikit terisak. Aku tidak akan melupakan apalagi membuang kalian, kenangan bodohku. Seburuk apapun mereka di masa lalu, aku tidak akan bisa membuangnya. Mereka adalah perjalanan hidup. Lagi pula, mana ada manusia yang bisa membuang secuil saja masa lalunya? Alat yang bisa seperti itu belum di temukan. Tentang moment capsul, mungkin aku akan memasangnya bersama cincin pertunanganku dengannya. Sepertinya sekarang aku harus melakukan penelitian lalu membuat penemuan baru. Hahahaha!
“Jika suatu hari nanti kau dan dia akan berakhir, apa kau akan menyimpannya bersama kami?” What the hell! Ini suara buku diary ku.
“Kau! Mengapa kau masih ada di luar?”
“Kau lupa memasukkanku ke sana.. Suatu saat nanti, apakah kau akan memasukkannya ke box bersama kami?” Ulangnya.
“Pertanyaan bodoh! Kami tidak akan berakhir, kau tahu. Kami sudah cukup dewasa, tidak ada waktu untuk bermain-main dan tidak serius dalam hubungan. Kita tidak akan terpisah. Kalaupun suatu saat nanti dia harus menjadi kenangan dan masuk ke time capsul ini, aku akan masuk bersamanya. Membuat cerita baru lagi, lalu membuat time capsul  lagi. Lalu jika dia akan jadi kenangan dan masuk ke dalam time capsul ku yang baru, maka aku akan mengulang cara yang sama, aku akan ikut masuk bersamanya lagi, membuat time capsul lagi, begitu seterusnya.. ”
“Kau memang bodoh..”
“Aku lebih merelakan roda percintaanku berputar dengan orang yang sama dari pada berputar dengan dua jenis manusia, yang nyata dan yang semu. Dan aku tidak bodoh, diary sayang.. Aku gigih. Kau lihat, aku bisa bertahan dengan yang lebih nyata. Kau yang bodoh!”
“Siapa yang bodoh?” Tanya suara lain yang lebih berat. Itu pasti seseorang yang  sedang aku ributkan bersama buku diary ini.
“Tidak ada.. Mengapa kau datang?” Aku menghampirinya.
“Tidak bolehkah? Aku lapar. Ayo kita makan..” Aku mengangguk, dan mengikuti langkah jenjangnya keluar dari kamarku. Sesekali menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah untuk meledek buku diary yang terkapar di lantai.
“Kau tidak bodoh.. ” Aku tersenyum lebar mendengar suara yang sayup-sayup ku dengar dari balik pintu. Suara diary ku.

-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar