pada siapa mataku terkunci?
pemikiranku terpaut?
nama siapa yang kuelu-elukan?
menurutmu..
apakah pada gitaris yang selalu asyik bercinta dengan gitarnya?
dengan wajah pucat vampire nya?
bibir merah pucat dengan sedikit koyakan di suutnya?
jari-jari fasih yang tanpa henti membelai senarnya?
pada dia bersuara tak biasa dari gitaris umumnya?
ataukah..
pada sosok tak berotot tak juga tak berotot..
dengan tingginya yang tak seberapa..
dengan perpindahannya yang lugas
pada dia yang senantiasa mencumbui tubuhnya sendiri..
pada dia yang suara berat seraknya aku impikan untuk meng-ijabiku..
pada dua tipe ciptaan Tuhan tersebut?
bukan..
dibawah ketidaksadaranku aku sadar bahwa mereka sama..
sama dalam perbedaan,
yang satu mencumbu gitar yang satu mencumbu dirinya sendiri.
itu berbeda..
malam mereka dihujani gemerlap lampu semu..
yang seolah menyinari mereka terang-terang
namun di belakang menggelapi mereka..
jeritan-jeritan fatamorgana..
yang seolah mengelu-elukan mereka
namun di belakang berbisik kasar terhadap mereka..
blitz-blitz kehidupan yang senantiasa mengawasi mereka..
layaknya tangan ketiga Tuhan,
berbelok sederajat-pun bakal ada saja beritanya..
mereka yang berdiri di tempat yang tinggi..
tampak tinggi untuk mereka yang menanti di depan,
namun sungguh rendahan untuk mereka yang ada di atas,
yang ada di belakang mereka..
persamaan mereka,
mereka adalah manekin hidup pemuas mata..
kasar memang..
namun, kehidupan bahkan lebih kasar dan keras dari pada manekin hidup..
bukan.. hatiku masih punya banyak ruang dan lebih banyak lagi ruang..
mereka punya ruang dalam hatiku..
percayalah banyak ruang kosong di dalamnya..
bukan kosong begitu saja..
sengaja ku kosongkan..'
untuk dia yang menghanyutkan rasa ke air asin..
membuahkan luka tergores yang menjadi perih karena garam..
membuang asa jauh-jauh dalam jalannya ke ujung pulau..
padahal dengan susah payah aku menabung asa..
dia tak tahu..
untuk dia yang menuntut ilmu jauh-jauh..
mungkin ingin menghindariku..
ingin tidak kenal aku..
tidak punya rasa yang sama denganku..
ah, itu sudah tidak perlu diragukan..
asaku masih sama..
ruang kosong ini masih sama..
masih tetap kosong,
sengaja aku kosongkan..
pintunya aku tutup dan kunci rapat dari dalam..
saat kau datang, ketuklah tiga kali pintu hatiku..
sebagai sinyal "hei, aku datang"
ketuk lagi tiga kali "biarkan aku mengisinya"
ketuk dua kali lagi "ini aku"
ketukan terakhir..
tiga kali lagi.. "yang kau tunggu"
ketukan beberapa kali itu mungkin melelahkan untukmu..
tapi jika mendapatkan hatimu semudah syaratku mengetuk pintu hatiku..
aku mungkin rela mengetuk pintu hatimu setiap saat..
tapi aku tau..
kamu tidak tau..
dan kamu tidak akan pernah tau..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar