Senin, 11 Desember 2017

Tunggu Nanti




Lalu, apa mungkin seseorang menjaga perasaan orang lain tanpa rasa?
Rasa-rasanya tidak..
Tidak tahu.. Tidak percaya.. Tidak peduli..
Kecewa itu selalu datang ketika aku percaya dan peduli.. Aku lelah..
Dia, yang kata temanku menjaga perasaanku,
Menjaganya dengan cara yang bahkan membuatnya tak lagi baik dimataku..
Dia, yang kata temanku menjaga perasaanku,
Menjaganya dengan cara yang bahkan membuatku tak lagi ingin memberikan tawaku untuknya..
Dia, yang kata temanku menjaga perasaanku,
Justru terlihat tanpa rasa karena ingkarnya..
Dia, yang kata temanku menjaga perasaanku,
Justru membuatku bersyukur karena caranya yang salah menjaga perasaanku..

Bersyukur karena aku belum jatuh..
Bersyukur karena aku masih logis..
Bersyukur karena aku terbangun..
Bersyukur karena aku belum jauh..
Dan bersyukur,
Karena hanya kepalaku yang kusandarkan,
Bukan hatiku
Karena hanya tanganku yang kuberikan,
Bukan rasaku
Karena peduliku yang kubagi, 
Bukan kasihku
Dan karena percayaku hanya kutitipkan, 
Bukan kuberikan 
Tentang caramu yang salah, 
Namun tak berhak kupersalahkan
Tentang rasa yang hampir singgah, 
Walau selalu kuminta enyah

Tentang andai-andai
Tentang kata kita
Tentang segala asa yang kita nanti
Tentang peduli yang selalu kita bagi
Tentang masa dimana ada kata kita disana
Tentang aku dengan tembokku yang tak tertembus
Tentang kamu dengan pilarmu yang terlalu tinggi
Tentang ego..
Tentang rasa..
Tentang kita yang sama-sama naif..
Tentang kita yang seolah berlomba menahan rasa..
Tentang kita..
Tentang perlombaan bodoh, tanpa pemenang tanpa pecundang,
Kamu goyah lalu pergi dan aku datar..
Lalu kita kembali bodoh, sepeeti tak pernah terjadi apapun..
Karena ego berkuasa diatas rasa..

Apa kita akan berpura-pura hingga kita lupa jika kita sedang berpura-pura?
Apa kita akan kembali lagi ke perlombaan bodoh itu?
Tentang siapa yang menang..
Tunggulah nanti,
Jika aku masih sabar untuk duduk di sana..
Jika kamu kembali tanpa niat untuk pergi lagi..
Saat pilar tak lagi tercipta untuk penyangga..
Saat tembok tak lagi tercipta untuk pembatas..
Saat kamu tak lagi memilih pergi dengan emosi..
Saat aku tak lagi masa bodo lalu berdiam bodoh..
Saat kita, membawa rasa jauh diatas ego..
Tunggu nanti, -NIFTH-

Minggu, 04 Desember 2016

Minggu, 4 Desember 2016- 20.20

Ketika seseorang dengan jelas mengisyaratkan dia cemburu..
saat kita terlihat tak ada di pihaknya..
saat kita tak duduk di sebelahnya..
saat rasa tak enak semakin memperkuat enggan..
saat sesal tak reda hanya dengan maaf yang sebanyak apapun diucapkan tak memutar balik waktu..
saat dia memilih mundur dan pergi..
saat diam tak lagi jadi bisu..
saat tegas berubah parau..
mata yang hanya memerah menjadi berair..
maaf.. maaf.. maaf..
kuucap maaf hingga kata maaf itu tak lagi memiliki arti..
yang aku takut, jika kamu memilih mundur
yang aku tak ingin jika kamu benar-benar pergi..
yang aku tak mau, jika dilangkah ini tak ada lagi kamu..
kamu salah tangkap, kamu salah mengerti..
bukan membandingkanmu, aku hanya mencoba melindungimu
bukan kamu tak baik, tapi karena kamu yang terbaik..
aku mencoba melindungimu dari hal yang tidak kamu suka
aku mempertahankanmu disebelahku karena kamu yang terbaik..
maaf..
membuat dadamu berat..
maaf..
membuatmu parau..
maaf..
membuat matamu berair..
maaf..
membuatmu bicara lebih banyak..
terima kasih..
membuatku sadar bahwa walau koin adalah satu tetap memiliki dua sisi berbeda..
terima kasih..
membuatku tahu, bahwa aku tak bisa begitu saja menyebut orang lain untuk disandingkan denganmu..
terima kasih..
untuk jujurmu malam ini.

Kamis, 24 Maret 2016

My 2015 Healing Trip

Hello, this is a late post as usual! hahah kapan gw kaga latepost -_- jangan tanya seberapa sibuknya diriku untuk.. M.A.G.E.R


My Healing Trip
Alhamdulillah, my UAS has done. UAS kemarin adalah UAS yang berat dengan segala pernak-perniknya. Iya, selama UAS itu gw harus membagi dua fokus gw dengan pelantikan anggota my lovely UKM, PIK M RAYA UNILA. Mungkin orang normal mah ga bakal mau, gak bakal mauu mendingan UAS kemana-mana daripada UKM. Tapi, kalo ga dilantik sekarang, kapan mau dilantik? Pikir gw demikian. Banyak deh lika liku mau pelantikan selain persiapan kilatnya. Ah, males kalo inget-inget proses yang banyak nyeseknya. Hahahah! Jadi intinya, gw kasih tau ending nya aja yaa.. Gw resmi dilantik sebagai sekertaris bidang Infokom. Udah gitu aja. Yeaaay!!
UAS kemarin berlangsung selama satu minggu lebih tiga hari dengan segala libur di tengah-tengahnya. Boom! UAS selesai hari Rabu, Kamisnya gw pelantikan. Tadinya mau pulang Jum’at tapi sepertinya gw butuh piknik mengingat akhir-akhir ini gw baperan dan tak bisa lagi menemukan inspirasi as usually I am. Hahahah! SOO YEAH! LETS GO !!
Jadi kemarin setelah menimbang-nimbang mau kemanaa, turunlah SK bahwa kita bakal ke Alam Wawai.Maunya ke tempat yang ada ombak sama pasirnyaa~ tapi mengingat kita semua adalah wanita, yaudah.  Udah sering denger sih nama Alam Wawai, tapi belum  pernah kesana. Pernahnya ke Wira Garden, dua kali kesana dan dua kali juga kesana  untuk pelantikan UKM. Itu bukan piknik.

Wawai itu Bahasa Lampung yang kalo di translete ke Indonesia, Bagus, baik, indah~

Yang pertama kali keluar dari mulut gw sesampainya di spot ini adalaaah “Uwahh!! Lautnya keliatan! Kapal nya juga! Ih gunungnya jugaa~” Sounds like kamseupay yah~ Mungkin jiwa dan perasaan gw belum bisa menerima kenyataan kalo hari itu gw gak ke tempat yang ada ombaknya. Hahahah!
 Tuh! See? Ini diambil pake kamera digital. Gw liat hasilnya langsung di kamera gak pede, ga keliatan view nya gituu -_- tapi setelah di buka di laptop~ Ahh! Luaaaas!!
Harga tiket masuknya Rp 15.000,- udah sama parkir dan sebotol minuman dingin~ Oiya, setiap pengujung dipakein gelang gitu buat tanda. Dipakein mas nya langsung loh ciyeee. Duh, kamu kalah loh.. mas-mas Alam Wawai aja udah masangin gelang ke tangan aku. Kamu kapaan? Iya kamu. Ih kamu lohh. Nahh kamuu!! Hahahah! Jadi, gw ga sengaja baca kalo pengunjung yang gelangnya dilepas/ga dipake disuruh bayar lagi gituu. Buat tanda pengenal kali yax. One more, gelangnya walaupun dari kertas tapi dia gelang yang tangguh loh. No matter how much you sweating, gelangnya ga basah dan lemnya masih kuat banget. Iya, sekuat pengharapanku ke kamu. -_-
 


Eksotis ya tangan aug -_- wkwk. Yuuk, Looking around~
Nah, mereka adalah tetua-tetua adat yang bawa gw kesini. Yang berdua duduk itu angkatan 2012, yang di bawah itu angkatan 2011/2010 gitu lupa. Dan mau tau mereka jurusan apaa? Jengjerengjengjeeeeng Teknik Kimia~ Hahahahhh! Iya, gw emang suka antimainstream. Dulu gw anak IPS, tapi bergaulnya banyakan sama anak IPA. Gw kuliah di fakultas Hukum, tapi gw suka nulis fiksi. “-_- Sekarang masih gitu juga kok. Hahah -_- Gapapa laah~ Temenan sama yang baik dan bikin nyaman mah bisa menghapuskan tembok bernama umur. :D

 


Yoshh! Look at my shoes and my kepanjangan jeans~ Iya, disini tanahnya masih tanah merah gitu. Lengket ala-ala. Jadi NOT RECOMMENDED BANGET kalo kesini pake flat shoes, wedges, heels bigbig noo! Nanti saltum alias salah kostumz. Diantara kita berempat ada dua manusia yang saltum. Hahah! Mba Mega dan Mba Tami totally saltum! Pake flat shoes sama wedges. Hahahah! Gw dan mba Elisa yang berjiwa muda Cuma bisa ketawa setiap mba Tami nagging around her wedges. LOL!






 

 
Well, I have no idea kenapa ada WC yang terlalu open minded(?) di tengah keasrian taman. Wkwkwk. Sorry ga ngambil full view nya. Tapi mungkin ini dulu emang bekas toilet, terus karena dirasa kagak tepat digusurlah dengan peninggalannya yang dibiarkan lalu menjadi prasasti seperti ini.

 














Itu tangganya kecil2 dan keliatan indah yaaa~ Iyaa tangga ini juga punya cara yang indah untuk membuat kamu lelahh. Fuhh
























Jangan ditanya kenapa jalan sendiri. Please jangaan!!
Jangan ditanya kenapa foto sendirian dan siapa yang motoin karena gw bakal jawab. Gw mengambil foto ini dengan perinsip demokrasi individual(?) Dari, untuk dan oleh AUG. Hahahah! Mbak Tami bilang gini “Kalo ngajakin ni bocah, gak ribet. Tapi kalo di lepas ilang gak ya? Dia punya dunia sendiri soalnya. Ntar nyariin kita mungkin pas udah laper atau bosen ngajakin pulang” Iya, itu buat gw. Hahahah. Gw gatau harus jawab apa untuk pernyataan ini. Sekiaaaaan bhaaay!!!


Sabtu, 19 Maret 2016

Tiga




Setelah hantaman keras tadi, aku melanjutkan perjalananku menyusuri jalan ini. Jalan di mana tangan kita saling genggam, bibir kita mengeluarkan apa-apa yang disimpan hati selama tiga hari belakangan. Ya, kita bertemu setiap tiga hari. Ingat?  Aku dituntun aroma kopi saat masuk ke dalam gang rindang ini. Aroma kopi dan roti yang baru keluar dari oven benar-benar membawaku mengingat hari itu, saat tiba-tiba kita sama-sama mengambil bangku terakhir yang berada di dekat jendela, lalu sama-sama berakhir duduk di luar kafe karena ternyata bangku itu sudah di pesan. Lucu. Namun cerita setelahnya tak selucu itu. Tiga hari kemudian kita tak sengaja bertemu di tempat yang sama. Ternyata kita memiliki kesamaan lain, setiap Rabu pukul tiga sore kita sama-sama datang untuk duduk di dekat jendela. Aku juga tidak tahu mengapa kita baru saling kenal bahkan tahu jika kita sama-sama pelanggan tiga hari di kedai kopi itu. Kita terlalu sibuk dengan dunia jendela kita, katamu hari itu saat kita sama-sama sepakat untuk berkenalan tepatnya mengulangi perkenalan kita dengan layak. Setelahnya, kopi yang biasanya aku pesan menjadi lebih hangat dan lebih manis walau takaran es dan gulanya tak pernah kuubah. Oh, kopiku bahkan terbawa suasana kita. Dulu.
Aku bahkan lupa apa yang membuatmu, aku, kita melepas genggaman tangan kita. Hari Rabu pukul tiga sore tak lagi menjadi finish penantianku. Lingkaran itu, aku telah lupa apa yang membawaku keluar dari lingkaran Rabu itu. Aku tak tahu, masihkah kamu ada di lingkaran itu? Aku tak lagi melihatmu di Rabu pukul tiga sore. Apa kau mengganti waktumu? Aku yang membawa segenggam penuh rasa penasaran dalam kepalan tanganku ini memutuskan untuk datang setiap hari ke kedai kopi itu. Masih bertanya dan mengulang pertanyaan yang sama. Akankah kamu datang hari ini? Aku melakukan hal yang sama, setiap hari ketiga, setiap pukul tiga. Aku tak menyadari bahwa rasa penasaran dalam tanganku semakin menyusut. Hingga pada hari itu, pada bulan ketiga dengan toleransi tiga hari, tiga puluh tiga hari sudah aku kehabisan rasa penasaranku. Aku memutuskan menyudahi penantianku, menghapus habis pertanyaan dengan jawabanku sendiri. Kau tak datang, dan mungkin tak akan pernah datang.
Hari ini aku berjalan menuju gang itu lagi, setelah tiga revolusi bumi. Tahun ketiga. Aku menyesap kopi ini dengan senyumku. Tak lagi hangat, manisnya pun pas, sama seperti sebelum aku bertemu denganmu. Semua masih sama, kecuali toko roti itu yang  kini ber-cat abu-abu, tak lagi merah muda. Aku mencibir, tak ada bedanya denganku sekarang. Bagaimana kabarmu? Kau melakukan segalanya dengan baik kan? Karena yang aku tahu kau sosok yang sempurna dengan segala hal yang kau arahkan dari bawah tanganmu. Ah, satu lagi.. Sekarang, siapa yang menemanimu minum kopi di dekat jendela?Ah, sepertinya aku harus menelan habis pertanyaanku setelah ingat akulah yang membuat hantaman keras tadi, membuatmu dan seseorang yang menggenggam tanganmu melambung ke atas lalu jatuh dengan teriakan mereka. 


Ambigu yaks-_- Well, sejauh ini, inilah cerpen yang berhasil gw kemas dengan kemasan cerpen. Biasanya suka lebih dari kepanjangan soalnyaa-_-  Ini juga cenderung ke monolog sih ya bentuknya. Dan inilah monolog yang berhasil gw jadikan monolog beneran. Karena yg sebelum2nya, monolog yang gw ciptakan lebih cenderung berbentuk puisi atau syair sih ya. Hahaha! Terimakasih sudah membuang waktu untuk membaca ini. Salam genre!! *eh! gagalfokus*