Hai angin, aku suka hembusanmu yang dingin..
Diiringi instrumental alami darimu angin dan wajah sendu mu awan,
Bolehkah aku tersenyum mengingat harapan yang lalu?
Ambigu..
Aku bahkan tak mengerti, apa hatiku ada dua?
Atau mungkin sistem otakku ganda?
Bibirku tertarik lebar untuk tersenyum, awan..
Aku yakin mata mereka yang melihatku menyimpulkan bahwa aku ini sedang kasmaran..
Tapi awan, ada sayatan-sayatan kecil nan tipis di dalam sana..
Tidak membuatku sakit, tapi cukup membuatku sesak..
Antara ingin tertawa kuat-kuat atau menangis keras-keras..
Angin,, apakah itu kau? Yang menerbangkan ribuan kupu-kupu di dalam perutku?
Sentuhan dinginmu di tengkukku sungguh membuat tanganku ingin menggenggam tangan lain..
Akan lebih dingin bukan jika kedua tanganku saling genggam..
Aku ingin menggenggam tangan yang lain..
Ah, itu tidak mungkin..
Bahkan aku hanya sendirian disini..
Sudahlan, temani aku ya angin..
Dinginkan saja kedua tanganku yang memang sudah hampir beku ini..
Awan, apa aku berdosa jika aku mengingat apa-apa yang pernah aku berikan kepada orang lain?
Sekalipun itu perkataanku?
Apakah aku boleh meminta kembali kata-kata yang pernah aku ucapkan padanya, awan?
bolehkah?
Atau tidak?
Aku suka hal yang indah, sekalipun itu masa lalu..
Aku suka mengingat, walaupun itu masa lalu..
Apalagi masa lalu yang indah..
Indah dengan segala kemesraan manis
Berbalut senyum yang kadang lebar kadang tipis
Tersinari oleh mata yang berbinar..
Bernada untaian-untaian rayuan manis..
Namun sayang.. penuh dengan harapan yang tergantung..
Harapan palsu yang tergantung..
Aku bodoh ya, Awan, Angin..
Biarkan aku sejenak melegakan detakan jantungku yang tak mau tenang ini..
Dengan mengingat percakapan kami dulu, yang untungnya masih tersimpan..
Agar aku bisa merasa seolah-olah dia masih seperti dulu..
Walau sebenarnya berbeda jauh..
Maafkan aku harapan palsuku..
Aku masih mengharapkanmu walau aku tahu kau itu semu..
~dari aku yang dulu pernah kau taburi dengan harapan~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar