Kamis, 07 Mei 2015

kamu tidak tau

pada siapa mataku terkunci?
pemikiranku terpaut?
nama siapa yang kuelu-elukan?
menurutmu..
apakah pada gitaris yang selalu asyik bercinta dengan gitarnya?
dengan wajah pucat vampire nya?
bibir merah pucat dengan sedikit koyakan di suutnya?
jari-jari fasih yang tanpa henti membelai senarnya?
pada dia bersuara tak biasa dari gitaris umumnya?
ataukah..
pada sosok tak berotot tak juga tak berotot..
dengan tingginya yang tak seberapa..
dengan perpindahannya yang lugas
pada dia yang senantiasa mencumbui tubuhnya sendiri..
pada dia yang suara berat seraknya aku impikan untuk meng-ijabiku..
pada dua tipe ciptaan Tuhan tersebut?
bukan..
dibawah ketidaksadaranku aku sadar bahwa mereka sama..
sama dalam perbedaan,
yang satu mencumbu gitar yang satu mencumbu dirinya sendiri.
itu berbeda..
malam mereka dihujani gemerlap lampu semu..
yang seolah menyinari mereka terang-terang
namun di belakang menggelapi mereka..
jeritan-jeritan fatamorgana..
yang seolah mengelu-elukan mereka
namun di belakang berbisik kasar terhadap mereka..
blitz-blitz kehidupan yang senantiasa mengawasi mereka..
layaknya tangan ketiga Tuhan,
berbelok sederajat-pun bakal ada saja beritanya..
mereka yang berdiri di tempat yang tinggi..
tampak tinggi untuk mereka yang menanti di depan,
namun sungguh rendahan untuk mereka yang ada di atas,
yang ada di belakang mereka..
persamaan mereka,
mereka adalah manekin hidup pemuas mata..
kasar memang..
namun, kehidupan bahkan lebih kasar dan keras dari pada manekin hidup..
bukan.. hatiku masih punya banyak ruang dan lebih banyak lagi ruang..
mereka punya ruang dalam hatiku..
percayalah banyak ruang kosong di dalamnya..
bukan kosong begitu saja..
sengaja ku kosongkan..'
untuk dia yang menghanyutkan rasa ke air asin..
membuahkan luka tergores yang menjadi perih karena garam..
membuang asa jauh-jauh dalam jalannya ke ujung pulau..
padahal dengan susah payah aku menabung asa..
dia tak tahu..
untuk dia yang menuntut ilmu jauh-jauh..
mungkin ingin menghindariku..
ingin tidak kenal aku..
tidak punya rasa yang sama denganku..
ah, itu sudah tidak perlu diragukan..
asaku masih sama..
ruang kosong ini masih sama..
masih tetap kosong,
sengaja aku kosongkan..
pintunya aku tutup dan kunci rapat dari dalam..
saat kau datang, ketuklah tiga kali pintu hatiku..
sebagai sinyal "hei, aku datang"
ketuk lagi tiga kali "biarkan aku mengisinya"
ketuk dua kali lagi "ini aku"
ketukan terakhir..
tiga kali lagi.. "yang kau tunggu"
ketukan beberapa kali itu mungkin melelahkan untukmu..
tapi jika mendapatkan hatimu semudah syaratku mengetuk pintu hatiku..
aku mungkin rela mengetuk pintu hatimu setiap saat..
tapi aku tau..
kamu tidak tau..
dan kamu tidak akan pernah tau..

Rabu, 06 Mei 2015

INFINITE

lohaaaw! hari ini gue mau nge-review tentang mereka.. yang salah satu dari mereka telah membuat hati gue bergemuruh melihat tatapan dalam tanya, mengunci bibir gue saat denger suara ketawanya dan bikin gue pengen nangis saat liat dia kehilangan kata oleh air mata. Apa banget sih kata2 gue. Hoeks! Yeah! Siang bolong gini, seulbi mau review tentang Namja-nya Inspirits!! Infinite!!! prokprokprokprok! blitzblitzblitz! *anggepajamerekamasukblog* mereka debut 9 Maret 2010, dan pada masa itu gue belum jadi Kpopers. Gue cukup sebatas tau BBF, he's beautiful, pasta, naughty kiss.. Hahaha, itupun gak hapal2 mukanya. Gue tau infinite ini sejak lagu yang "Nothing over" sumpah gue ga hapal-hapal mukanya. Muka mereka kok sama semua sih? Hahaha. Wajar kok, itu wajar. Dan lo tau, sekarang temen2 kuliah gue, bahkan temen2 SMA gue dulu bilang "orang korea mukanya sama-sama. Males gue sukanya" Dan itu bikin gue pengen mendekati mereka, lalu berbisik majna di telinganya gini "anjir! kagak!" hahaha. Yaudah, gue kasih deh pict nya infinite~



dari kiri ya, yang berjas cokelat itu namanya Sungyeol, sebelahnya calon suami gue, Hoya, sebelahnya leader ceplasceplos Sunggyu, yang tengah visual yang kadang konyol L, sebelahnya lelaki dengan sejuta aegyo nya Woohyun dia ini main vocal loh, sebelahnya temen di sub Infinite H nya bebeb namanya Dongwoo, yang terakhir maknae yang kadang terlihat manly banget Sungjong.
Setelah gue jadi kpopers dengan fandom yang multi *wkwkguegabisaliatcowokcakepdikit* ternyata muka orang korea itu beda-beda loh. GA SEMUANYA OPLAS! hellow, ya walaupun mereka itu identik dengan oplas, tapi ga boleh dong judging langsung kalo semuanya itu hasil oplas.. oh iya, infinite ini semuanya pada punya sub unit sendiri loh~ terakhir yang kemaren debut itu infinite F, isinya L, Sungyeol, sama Sungjong.
gue kasih biodatanya aja deh yaa..urutan sama foto yang diatas aja yaa biar gampang inget mukanya,.


Nama Lengkap : Lee Seong Yeol
Nama Panggilan : Sungyeol
TTL : Gyeonggi, 27 Agustus 1991
Posisi : Vokal
Tinggi Badan : 183 cm
Berat Badan : 59 kg
Golongan Darah : B
Hobi : Menonton Film
Keahlian : Rap
Sub-unit : INFINITE F
Twitter : @Seongyeol1991

 Nama Lengkap : Lee Ho Won
Nama Panggilan : Hoya
TTL : Busan, 28 Maret 1991
Posisi : Penari Utama, Pemimpin Rapper, Vokal
Tinggi Badan : 178 cm
Berat Badan : 60 kg
Golongan Darah : AB
Hobi : Bermain Game
Keahlian : Menari, Rap
Sub-unit : INFINITE H
Twitter : @hoya1991


 Nama Lengkap : Kim Sung Gyu
Nama Panggilan : Sunggyu
TTL : Jeolla Utara, 28 April 1989
Posisi : Leader, Pemimpin vokal
Tinggi Badan : 178 cm
Berat Badan : 62 kg
Golongan Darah : A
Hobi : Menonton film, mendengarkan musik
Keahlian : Berbahasa Mandarin
Sub-unit : Solo
Twitter : @kyuzizi
                                                                                   

 Nama Lengkap : Kim Myung Soo
Nama Panggilan : L
TTL : Seoul, 13 Maret 1992
Posisi : Vokal, Visual
Tinggi Badan : 180 cm
Berat Badan : 60 kg
Golongan Darah : O
Hobi : Memasak, berolahraga, Rap
Keahlian : Rap
Sub-unit : INFINITE F
Twitter : @INFINITELKIM


 Nama Lengkap : Nam Woo Hyun
Nama Panggilan : Woohyun
TTL :Chungcheong, 8 Februari 1991
Posisi : Vokal Utama
Tinggi Badan : 176 cm
Berat Badan : 58 kg
Golongan Darah : B
Hobi : Tenis Lapangan, Ski
Keahlian : Memasak
Sub-unit : Toheart
Twitter : @wowwh


 Nama Lengkap : Jang Dong Woo
Nama Panggilan : Dongwoo
TTL : Gyonggi, 22 November 1990
Posisi : Rapper Utama, Pemimpin Tari
Tinggi Badan : 171 cm
Berat Badan : 59 kg
Golongan Darah : A
Hobi : Skateboarding
Keahlian : Beatbox, Snowboarding
Sub-unit : INFINITE H
Twitter : @ddww1122


 Nama Lengkap : Lee Sung Jong
Nama Panggilan : Sungjong
TTL : Gwangju, 3 September 1993
Posisi : Vokal, Maknae
Tinggi Badan : 177 cm
Berat Badan : 54 kg
Golongan Darah : A
Hobi : Mendengarkan musik
Sub-unit : INFINITE F
Twitter : @infiniteyounges







sudah yaa~ semoga yang belum tau kpop atau yang baru akan mencintai kpop bisa cepet hafal sama wajah2 tampan mereka yang bisa mengalihkan dunia dan menyederhanakan arti bahagia. see ya on the next review~~ :* SMOOOCHCHCHCH!!

What's This?!

what's this? Sesuai judulnya.. apa ini? ini apa? apa ini? ini apa? yah gitu aja terus sampe ladang gandum dihujani badai cokelat lalu menjadi kokocrunch. Hahaha. Jadi gini ders.. readers.. yah ntahlah ada yang nge-read atau enggak yang penting udah gue sebut ya namanya. :D
Seulbi *namasamaran* mau cerita tentang 짝 사 랑.. eh tapi sebelum jadi jjag sarang ya pastinya jadi 초 사 랑 dulu deh ya. haha. mungkin ada beberapa yang ga ngerti bahasa planet apa yang gue pake, atau abjad dari planet mana yang gue tulis.. EH, Woy! itu bukan bahasa dan abjad planet! eh ya dari planet si, dari planet bumi, tepatnya dari negara Korea. Yeahh, itu hangeul. Biar keren dikit gue pake hangeul. Kalo boleh jujur, bukan keren sih.. Biar ga sakit-sakit amat gitu nyebutnya. Kembali ke topik, gue kasi tau dulu eaa, 짝 사 랑 dibacanya jjag sarang, atau di-intiin"cinta satu arah" atau kalo tahan pedesnya ya sebut saja "cinta bertepuk sebelah tangan". sedangkan 초 사 랑 dibacanya cho sarang artinya cinta pertama. So, readers yang cakap pasti sudah mengerti kenapa gue prefer to use hangeul dari pada pake bahasa ibu kita. Hahaha!
Jadi gini, pada jaman yang belum dahulu-dahulu amat, tepatnya mungkin dua tahun yang lalu pas gue baru pindah sekolah.. Hati, perasaan, perhatian, dan pikiran gue tertaut pada seorang ciptaan-Nya, sebut saja dia hamba Allah, tapi kepanjangan ya.. Sebut saja dia Mr. A. Iya, doi cowok. Yaiyalah cowok, hellow! Menurut cerita temen gue, oiya pas pindah SMA gue masuk kelas sosial ya, karena minat gue disitu. Hehe, dan temen gue namanya Anggie dia masuk kelas sains. Iya, gue pindah bareng temen gue. Kenapa pindah? Pindahan dari mana? Pindah kemana? Kayaknya ga perlu di bahas ya.. Ceritanya luaaas banget an itu privasi :D Intinya gini, gue dan Anggie pindah dari SMA di suatu kabupaten menuju SMAN di sebuah ibukota. Singkat kata singkat cerita, Masuklah Anggie ke 11 IPA 1, dan gue ke 11 IPS 2. Sekedar sharing sedikit, namanya jadi murid baru ga se-dramatis, se-sosweet, an se-mudah apa yang ada di cerpen2, novel2, atau FF. Ga semuah lo tabrakan sama cowok berantem musuhan lalu jadian, KAGAK! Gak se-simple lo duduk di sebelah temen baru, cewek, lo langsung akrab, ke kantin bareng, cerita bareng dan tiga hari kemudian sahabatan kyk temen lama, KAGAK! Sekian.
Seminggu setelah pelajaran mulai intensif, si Anggie mulai ngomel-ngomelin segala unek-uneknya di sekolah ke gue. Iya, gue dan Anggie itu satu rumah, beda kamar. Haha.
"Sebel loh aku sama Mr. A itu, kalo aku ngajakin ngomong dia itu kayak gak ngerespon, aku kayak dikacangin, gak jarang malah dia ngadep tembok.."
Gue cuma ngakak dengernya, ada ya orang aneh kayak gitu. Pikir gue. Besoknya si Anggie cerita hal-hal menjengkelkan itu terus-menerus sampe gue hapal. Dan suatu hari dia bilang kalo Mr. A ini anak rohis *wahh keren* bla-bla-bla-bla gue lupa dan akhirnya gue kepo dengan bagaimana orangnya. Gue cuma mau kasih tau aja, dari awal si Anggie cerita, tentang dia yang rajin sholat, anak rohis, pendiem jujur aja setengah hati gue udah addict sama kesehariannya dia. Kalo lo mau tau, tiap hari gue nanya *sebelum Anggie recognized me that I like him* gimana si Mr. A dikelas, mainnya sama siapa aja? Telat gak tadi? Dia kalo dzuhur sholat gak? Secara gue bisa memantau sholatnya kalo pas dzuhur doang kaan -_- Tapi banyak plus-plus lain dari cerita Anggie setelah gue gali lebih mendalam. Bahkan dia datengnya setengah tujuh, baca Al-Qur'an pagi-pagi, mainannya sama anak-anak cowok, jarang gabung ke cewek *yaiyalah*, jarang jajan ke kantin, dan dzuhur ga pernah absen dari sholat. Subhanallah, ada ya cowok kayak gitu. Bahkan gue aja ga serajin itu.. Ke-kepoan gue semakin membuncah dari hari ke hari. Dan hari itupun datang, "Nggi, emang Mr. A itu yang mana orangnya?" Finally, kata-kata itu terbang melayang dengan ringan dari bibir gue yang ga berdosa ini. As I expected, dengan senang hati Anggie cerita fisiknya, ini itu. Yah, walau gue masih men-sketsa sendiri gimana bentuk orangnya di otak gue. Hahaha, apalagi gue orangnya susah mengingat orang lain. Parah ga sih gue -_- haha!
Di suatu pagi gue berangkat duluan ke sekolah, kata anggie, dia orangnya putih, rambutnya ga pendek tapi rapi, tampilannya rapi, dan kalo pagi gini udah duduk di depan kelas dengan kakinya yang disilangkan*IYKWIM*. Jadi gue jalan nyantai di depan IPA1, selain itu secara kan gue datengnya kepagian, jadi gaperlu takut udah masuk. Yang gue lihat di depan IPA 1 ada dua orang laki2 yang satu berdiri satunya duduk di kursi. Yang duduk di kursi ga pake dasi, duduknya disilang kakinya, dan orangnya putih. Yang berdiri, tinggi, putih dan tampilannya sejenis sama yang duduk di kursi. Gue bingung, ah kamvret, hoax nih si Anggie. Atau gue yang expected too much? Wkwk
Sampe rumah gue ceritain ini itu ini itu. Disingkat aja ya, dari dua orang tadi itu salah satunya ada Mr. A. Menurut lo yang mana orangnya? Yang duduk di kursi meen! Mukanya lempeng. Ketara kok alimnya. Haha. Jadi gue tegasin ya, seperti tulisan gue di atas, bahkan gue udah suka sama Mr. A sebelum liat mukanya. Well, I like his personality. Gue ini secret admirer handal. Dari situ gue langsung nyari twitternya, oh iya, gue belum cerita ya. Namanya Mr. A ini islam banget. Gue jatuh hati sama nama belakangnya. Cita-cita gue, besok kalo punya anak cowok bakal gue tempelin nama belakangnya Mr. A di nama anak cowok gue. :D Jadi, Mr. A, atau temen2 yang tau tentang Mr. A, suatu hari nanti di masa depan kalo ketemu anak cowok yang punya nama sama dengan nama belakangnya Mr. A, itu anak gue. :D
Ketemu!! Twitternya ketemu, langsung deh gue follow terus minta follback. Yah, first conversation on twitt nya ya cuma "Follback" "Followed" "Thanks" dan end. No more respond. Gue stalkin deh tuh akunnya, gue udah bilang kan kalo gue ini handal? Hahaha. Dia penggemar berat Liverpool. Tapi fans2nya Liverpool itu keren2 ya kesetiaannya. Haha
Singkat lagi, Anggi ngerti kalo gue suka sama Mr. A dan akhirnya setiap hari gue selalu menanti oleh-oleh dari anggi sepulang sekolah. What's news about Mr. A. Haha, anggie mah seneng aja. Uah kayak alat perekam, dia ceritain segalanya. Thanks to anggie deh, gue ngerasa kenal deket sama Mr. A. Hahahaha
banyak yang harus di skip. soalnya ini cerita dua tahun loh. Hahaha, gue cuma mau kasih quote aja, semakin kita menghindari sesuatu maka sesuatu itu akan terus muncul di sekitar kita. hal ini terjadi pada gue yang mencoba menyudahi kegiatan secret admirer gue ke Mr. A. Biasanya "menyudahi" akan diawali dengan "menghindari" dan sialnya gue, kayaknya gak pernah telat seharipun mata gue ngeliat Mr. A atau ga sengaja ketemu di mushola. Oh yaampun. Dan gue gagal berhenti. Dan rasa itu masih merekat kuat.
Ceritanya pengumuman SNMPTN, jalur undangan buat masuk ke universitas. Gue keterima yeayy! dan Mr. A juga keterima! Alhamdulillah. Di sekolah kita yang lulus SNMPTN cuma 5 orang. :')
Gue gatau harus seneng atau nyesek. Gue keterima disini, di universitas di kota ini dan Mr. A gue jauh, dia harus nyebrang laut untuk pergi ke ujung pulau yang bersebrangan dari sini. Gue kecolongan, entah fikiran gue mencetus itu aja setelah liat langsung papan pengumuman. Gue usap namanya di kertas hvs yang ada di mading.. "lo jauh banget.. jahat banget gak ngajakin gue daftar disana.. jahat banget gak bilang-bilang kalo lo daftar disana.. seenggaknya biarin gue coba buat bertemen sama lo.." Sumpah, gue usap sambil senyum miris. Masih segar banget dlm ingatan gue.
Ini yang nyesek, pas di kantor TU, gue memojokkan diri deket pintu, jarak beberapa orang dari Mr. A. sebenernya gue ketar-ketir banget pengen duduk di kursi yang ada di depan gue, tapi ntah gue gelisah banget, konyol sih kalo difikir, tapi don't judge my kekonyolan. Dan pas gue degdegan, degdegan gue itu langsung meleleh jadi keringet dingin setelah Mr. A ngedudukin kursi yang mau gue dudukin. "Gue harus coba ngomong sama dia" Kata gue berulang2 dalam hati. Sahabat gue, cowok, panggil saja Ico. Dia keterima di universitas yang sama dengan Mr. A. Gitu.. Kalo lo mau tau gimana rasanya jai gue yang akan memulai conversation ke Mr. A, lo bayangin lo adalah seorang pendiam, anti sosial, ga punya temen, dan lo berbuat kesalahan yang membuat lo harus minta maaf di secara langsung di depan khalayak umum sebanyak kira-kira satu GSG seukuran GSG Unila, dan itu penuh. Bayangin aja seendiri ya. Dan akhirnya gue memulai dengan tangan yang dingin basah.
"Mr. A.." panggil gue pelan
dia cuma nengok, ekspresi datarnya bilang "Apa?" dia ga ngomong ya, gue cuma mengartikan dari tengokannya ke gue.
"Udah dpt temen ke ******"
"Belom" dan dia langsung mengalihkan pandangannya dari gue. Lo tau gak sih rasanya, nyesek, malu, kacang! kacang! kacang! sakit! parah! ih parah! gue senyum kecut. dari situ gue bersumpah gak bakal ngelakuin hal bego semacem ngajakin ngomong Mr. A. :(
Oiya, tapi gue udah buktiin Allah akan membuka lebih banyak pintu saat pintu satu telah tertutup buat kita. Ceritanya pas ada event sekolah, gue bawa kamera, si Mr. A itu ikut futsal, dari pinggir lapangan gue nmotoin dia, dan hasilnya keren2. Dan lo tau, betapa nyeseknya gue saat tau file2 gue di D pada ilang ga terkecuali foto candid gue. Gue sampe ga bisa nangis tau gak. :(
Namun, anggie kasih gue hadiah ulang tahun yang daebakk!! Ulang tahun gue jatuh di 12 mei, dan perpisahan SMA gue 13 mei, jadi si anggi minta Mr. A buat foto bareng sama gue, alhamdulillah doi mau. Dari situ gue ga berhenti senyum dan ga bosen liatin kamera gue mulu. Terus pas pengumuman kelulusan juga, AAAAAAAK! lagi2 makasih anggie, berkat kelakuanmu yang kadang ga punya malu dan takut gue bisa foto lagi sama Mr. A. sumpah, sebelumnya gue ga pernah ngarep bisa foto sama doi. tapi kata anggie gini "Kapan lagi tan.. kapan lagi". Tadinya setelah itu gue pengen foto pas wisuda, tadinya.. Tapi setelah menerima kalo kita ga satu universitas.. apa boleh buat harapannya larut sama air selat sunda. Sekian lah~~
gue ada sesuatu yang ga berani gue omongin langsung ke lo, Mr. A, itupun kalo lo ngerti kalo Mr. A itu lo. Gini, sebelumnya maaf, gue ga pernah bermaksud ganggu lo, gue ga pernah kan ganggu lo? Gue cuma beranoi liat lo dari jauh, jauuuh banget. Kalaupun lo deket, gue pasti ngehindar. Kadang keliatannya gue benci ya sama lo, bukan.. enggak.. gue cuma nutupin perasaan gue aja. sama sekali ga ada benci ke lo. Makasih, untuk empat jepretan fotonya.. Makasih udah sudi foto sama gue. Hahah
Gue ini orangnya gigih, kalo gue tau lo daftar di sana, mungkin gue juga bakal daftar di sana. Biarpun ga satu fakultas tapi seenggaknya gue masih satu almamater dan pasti bakal ga sengaja ketemu lo suatu hari. Tapi kemungkinan ya cuma jadi kemungkinan. Gue tau lo ga bakal jadi gue, yang punya banyak perasaan buat lo. Semuanya masih sama, dengan gue yang mengagumi lo dan lo yang gapernah kenal gue, mungkin. Asal lo tau, gue masih setia stalking twitter lo buat sekedar tau gimana kabar lo, tapi sayang lo jarang update twitter. Gue bukan psikopat, bukan terobsesi, tapi gue cuma membuat semuanya let it flow~ gue udah cukup ngoyo buat kagum sama lo, dan gue gak mau ngoyo buat ngelupain segalanya tentang lo.. Mr. A. Yah, mudah2an aja setelah lo baca tulisan bodoh gue ini lo gak semakin illfeel ya sama gue. Dari gue, yang masih kagum sama lo sampe sekarang. Bye!! :)

 


Selasa, 05 Mei 2015

EXO - Don't Go (Korean Ver.)

gue jatuh cinta banget pake Z sejak pendengaran pertama sama lagu ini. yuhuw jadi ya gue mau berbagi yaaa :D

Romanized:

Jogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim naege ttaraora sonjitan geot gataseo
Aejeolhan nunbitgwa mueonui iyagi gaseume hoeoriga morachideon geunal bam
Omyohan geudaeui moseube neogseul noko hanappunin yeonghoneul ppaetgigo
Geudaeui momjise wanjeonhi chwihaeseo sum swineun geotjocha ijeobeorin nainde
Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha
Nal annaehaejwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Eodiseo wanneunji eodiro ganeunji chinjeolhi yeogikkaji majungeul wajun neo
Gapareun oreumak kkakkajin jeolbyeokdo geokjeongma mueotdo duryeoul geosi eobseuni
Neoneun ppomnae uahan jatae
O! Nan myeot beonigo banhago
Sarangeun ireoke nado moreuge
Yegodo eobsi bulsie chajawa
Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha oh no
Nal annaehaejwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni
Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi
Natseon goseul hemaenda haedo gireul irheobeorindaedo nuguboda soljikhan naui mameul ttareulgeoya
Joyonghi nune ttuineun momjit ganghago budeureoun nunbit
Geobuhal su eomneun nanikka yeah
Nal deryeogajwo
Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo
Oh, sesangui kkeuchirado ttaragalge oh no
Nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh
Jogeumahan sonjit naui gaseumen hoeoriga chinda
Woo-hoo-hoo, woo-hoo-hoo, woo-hoo-hoo


English Translation:

The small fluttering of your wings seemed like it was telling me to follow you
The sad eyes and tacit stories in your heart that night in which the whirlwind was raging
I was mesmerized by the mysterious you and stared at you and had my one soul stolen
Because I am completely drunk at your movements, I even forgot how to breathe
Like a waltz, I sit lightly and can’t take my eyes off of you
My eyes naturally follow you every time you walk
Guide me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Wherever you came from, or wherever you’re going, up until now you always kindly greet me
A steep climb, the cliffs that cut off, don’t worry because there is no place to be afraid of
Your elegant figure oh I fall for it many times
Like this love, without even me knowing, comes and finds me unexpectedly
Like a waltz, I sit lightly and can’t take my eyes off of you
My eyes naturally follow you every time you walk
Guide me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow from behind you so please don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
This walk that I’m dreaming
You’re my only beautiful butterfly
Oh, woo-hoo-hoo oh yeah- woo-hoo-hoo yeah woo-hoo-hoo
Even if we wander in unfamiliar places, even if we get lost
I’ll follow my heart that’s more honest than anyone else’s
Because I can’t resist your quiet movements that strike me, and your sharp and soft gaze
Take me yeah take me together with you to the place where you live
Oh even if the world ends, I’ll follow you
Oh no don’t go out of my sight
Even when the morning comes, don’t disappear oh
A small wave of your hand makes a whirlwind strike in my heart
Woo woo hoo~ woo woo hoo~ woo woo hoo~
Cr: http://www.kpoplyrics.net

Minggu, 03 Mei 2015

"Time Capsule"

“Sepertinya aku merindukan mereka..” Setelah gumaman kecil itu terbesit dalam hatiku, aku berjalan menuju sudut kamarku yang bisa di katakan luas, menggeser kotak usang berdebu lalu menekan beberapa digit password yang aku buat.
Aku tak tahu pasti, zaman modern ini menguntungkan kotak usang ku atau justru sebaliknya. Aku bersyukur masih bisa bertahan hidup di zaman ini, zaman dimana segalanya serba di- password, CCTV bukanlah hal yang aneh atau tergolong mewah seperti dulu, kita tak perlu lagi keluar rumah untuk membeli sesuatu karena di setiap pintu rumah telah di sediakan sebuah box, yang apabila kita menempelkan telapak tangan kita pada layar scan nya, maka akan muncul sebuah layar dalam bentuk hologram,  lalu dengan hanya menggerakkan sedikit jari tangan kita pada sesuatu yang kita inginkan, lalu keluarlah dia dari box itu dalam keadaan segar. Segar dalam artian, jika yang kita mau adalah fast food maka ia akan keluar dengan kepulan asap hangat, pertanda dia amat sangat fresh cook, yang lainnya silahkan bayangkan sendiri.
 Jalanan hanya di penuhi bus umum bertenaga surya. Tak ada lagi asap, karena keberadaannya tergantikan oleh uap panas yang mampu membuat manusia zaman sekarang malas keluar karena uap panas yang memenuhi jalan, lalu terciptalah box ajaib ini dengan termotivasi oleh kemalasan manusia. Ya, jika box ini ada di sepuluh tahun yang lalu pasti akan dikerumuni warga lalu disebut-sebut sebagai box ajaib, lalu mereka akan meminta.. Apa ya, aku lupa, pesugihan kah namanya? Setelah aku fikir-fikir aku manusia sepuluh tahun yang lalu memang konyol. Aku tak yak yakin aku termasuk kedalam nya atau tidak, tapi yang pasti aku merasa beruntung karena aku lahir di akhir abad 19, dan aku berusia belasan tahun di abad 20, lalu aku masih hidup saat dunia maju berlangkah-langkah lebih jauh menembus dimensi yang benar-benar  modern.
Aku merasa aku hidup di dunia yang aku impikan dimana setiap orang diberi kepercayaan dan kepercayaan selalu dijaga. Semuanya makmur, tak ada korupsi, tak ada adu mulut, tak ada banjir, berita-berita di televisi berisi tentang kemajuan-kemajuan yang ada di negara ini. Namun jika semuanya terlalu baik-baik saja akan tidak menyenangkan bukan? Konflik-konflik kecil tentunya masih eksis di dunia masa kini, namun tidak di besar-besarkan sebesar sepuluh tahun yang lalu. Apa aku terlihat  membanggakan zamanku sekarang dibandingkan sepuluh tahun yang lalu? Ya.. ini disebut maksud tersirat. Yang pasti sekarang aku merasa penyakit darah tinggiku sudah tenang bersama kenangan sepuluh tahun lalu, mungkin.  Aku tidak ingin membahas kemajuan zaman.
Aku memasukkan password melalui hologram yang muncul di atas kotak usangku. ‘81218’ Nomor unik itulah yang aku pilih di hologramku, perlahan box usang itu membuka tutupnya sendiri. Terdengar riuh dari dalam sana.
“Apa lagi yang akan kau lakukan?”
“Kami sempit, jangan tumpukkan sesuatu di atas kami!”
“Aku sudah tua, kenapa kau berikan aku tempat di dasar box?”
“Hey! Kenapa kau diam saja? Apa di zaman yang katamu maju ini manusia mulai bicara melalui batinnya?”
“Kau bodoh? Kami hanya butiran kecir masa kalian! Bukan butiran hati kalian!”
Aku tersenyum kecil mendengar keriuhan mereka,  masa lalu ku. Mengusap tanganku untuk membersihkan debu-debu halus yang menempel dengan cantiknya pada sisi box.
“Aku merindukan kalian..” Tiga kata pelanku membuat keriuhan itu berhenti, mereka tenang kembali. Aku menyingkirkan penutup box dan menatap mereka satu persatu. Mengambil salah satu dari mereka, sebuah uang yang aku dapat dari penjualan buku pertama ku.
“Kini semuanya baik-baik saja..” Aku mendekap uang kertas ringkih itu.
“Apa kau tidak berniat membelanjakan ku?” Tanyanya penuh harap
“Tidak, kau uang pertamaku.. Aku bahkan ingin membuatkanmu kotak terpisah dari mereka, mintalah permintaan lain.. Apa kau ingin aku memajangmu bersama figura-figura itu?” Aku menatap uang ku yang tercium lusuh.
“Taruh aku di dompetmu..” Katanya singkat.
“Tidak bisa.. Aku jarang memakai uang. Sekarang orang lebih suka memakai kartu, tak terkecuali aku. Jika kau ada di dompetku, kau akan lebih merasa kesepian.. Apa kau ingin ku pasang di figura?”
“Apa kau tidak bisa memberiku kepada ibumu saja? Pasti beliau akan mengunakanku..” Harapnya lagi.
“Tidak mungkin. Aku sudah memberikan teman-temanmu pada ibuku, aku sengaja menyisahkanmu sebagai kenangan manisku.. Apa kau sudah sesak di box ini? Kau ingin aku berikan kotak lain?” Aku masih mencoba meyakinkan uang seratus ribuan yang hapir menguning itu.
“Jangan.. Kalau begitu biarkan aku tetap tinggal di box ini.. ” Setelah kata terakhirnya aku meletakkan uangku kembali. Dengan sedikit mengaduk isi box ku, aku mencari sesuatu. Apa yang ingin aku cari pun aku tak tahu.
“Hey! Berhentilah kami pusing!” Sergah secarik kertas.
“Kau? Kau siapa?” Tanyaku.
“Kau tidak bisa membaca namaku?” Katanya sinis.
“Ah.. Kau kertas ujian milik orang itu..” Gumamku. “Bagaimana kau bisa ada di time capsulku? Apa dia yang memasukkanmu kesini?”
“Hei, jangan bercanda. Kau lupa? Kaulah yang mengambilku dari lacinya sebelas tahun yang lalu, saat kau kelas tiga. Kau ada jam eskul di kelas orang ini, dengan segenap kebohonganmu, kau ingin membuangku, nyatanya kau malah”
Stop! Sudah, aku ingat.. Lalu apa kau menyesal? Apa kau ingin aku buang dari sini?” Tanyaku pada secarik kertas ujian milik seseorang yang pernah menyita perasaanku saat di bangku SMA.
“Jangan, kau tega membiarkanku dimusnahkan dengan uap nuklir? Aku akan berubah bentuk menjadi asap yang bahkan tidak menyisahkan satu remah-remah kertaspun. Heuuhhh.. Membayangkannya saja aku sudah ingin menangis. Aku sudah cukup lama bertahan dengan identitas berbeda dari mereka yang berstatus milikmu.. Aku sudah merasa nyaman disini. Dan tolong..”
“Stop. Kau tidak seperti pemilik aslimu yang tidak banyak bicara ya.. Apakah sebelas tahun bersamaku tidak membuatmu merasa jadi milikku? Huh? Sekarang kau milikku, kertas cerewet.” Kataku, kertas itu tak mebgeluarkan celotehannya lagi.
Aku meletakkannya bersama uangku, lalu mulai mencari sesuatu lagi dalam time capsulku. Agak susah mencari kenangan sepuluh tahun lalu, mereka ada di bawah.  Aku terus mencari orang-orang dan masa lalu yang masuk daftar kerinduanku. Untuk sekedar kupeluk dan menyampaikan semuanya sangat baik-baik saja sekarang dan berterimakasih kepada mereka yang telah menjadi bagian kisahku dan kuberikan tempat istimewa di time capsulku.
“Sekarang apa yang kau cari?” Tanya sarung tangan rajutku.
“Jangan bilang kau mencari pemilikku di sini..” Desis kertas ujian itu.
“Bagaimana kau tahu?” Aku masih mencarinya di dalam kotak.
“Kau sangat mudah di tebak. Mana bisa kau menemukannya di sini? Kau bahkan tidak memiliki kisah bersamanya. Jangan harap.” Sinis kertas ujian itu.
“Aaah..”
“Ah! Dicky!” Aku menemukan foto Dicky yang mulai memburam, baunya pun sudah usang selayaknya kertas dari masa lalu. Dicky M. Prasetya, makhluk ciptaan Tuhan yang terkenal lewat boyband Indonesia era 2011, dia juga pernah bersarang dalam fikiranku beberapa tahun, bahkan aku pernah dibuat menangis olehnya.
“Apakabar.. ” Tanyaku mengusap foto usang Dicky.
“Pasti dia baik dengan kehidupan keluarga dan perusahaan desainnya sekarang.”
“Ahh.. Iya” Gumamku.
“Apa kau sempat bertemu dengannya, sesuai mimpimu dua belas tahun lalu yang akan menemui bentuk asliku lima tahun mendatang? Come on, ini sudah lewat lima tahun kan?”
“Aku lupa itu..”
“Kau melupakan ku?”
“Hmm.. Aku menggantimu dengan orang yang nyata, tadinya. Tapi.. Mungkin kau sudah dengar cerita dari kertas ujian itu.. Lalu aku menggantikanmu dengan yang semu lagi, lalu sekarang aku dengan manusia yang senyata-nyatanya..” Kataku pasti.
“Apa setelah ini kau akan mengganti manusia nyata milikmu dengan yang semu lagi?”
“Hey, kau ingin kubuang?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Aku lihat pergerakan roda percintaanmu hanya sekitar manusia semu dan manusia nyata saja. Tidak menutup kemungkinan kan, jika roda itu akan berputar lagi?”
“Jangan mendoakan aku seperti itu, Dicky! Dulu aku labil, Dicky..”
“Apa sekarang kau fikir kau tidak labil? Kau masih.”
“Aiss, sudahlah.” Aku akan mengumpulkan Dicky usang bersama uang dan kertas ujian.
“Hey! Tak bisakah kau memperbaharuiku?”
“Ku bodoh? Jika kau baru berarti kau bukan kenangan. Sudahlah.” Sekarang aku benar benar menyatukan Dicky dengan mereka.
“Sepatu?” Aku mengambilnya dan mengusap debunya.
“Hai, Intan.. Apa kabar, apa ukuran kakimu masih sama dengan empat belas tahun yang lalu?” Tanyanya.
“Sepatu dari bapak.. Empat belas tahun? Setua itukah umurmu?” Kataku terperangah.
“Jika aku manusia, aku masih dalam masa manis-manisnya.” Katanya percaya diri. Iya, dia benar. Ku tatap sepatu ini, berwarna putih dominan dengan sedikit corak biru tua berbentuk garis, uniknya sepatu ini dia memiliki wedges di belakangnya, yang akan membuatku terlihat lebih tinggi. Wedges itu telah memiliki lubang besar dibawahnya sejak aku kelas tiga SMA, dan dari situlah aku menyerah dan berhenti untuk memakainya. Aku tidak ingin menyakiti sepatu hadiah dari mendiang bapakku. Setelah aku fikir-fikir bapak keren juga ya saat itu, beliau memberiku sepatu kets ber-wedges untuk aku yang kurang tinggi. Hehehe. Aku mengelap punggiran sepatuku dengan tissu. Menghilangkan noda-noda cokelat karena debu.
“Aku tak yakin, tapi ukuran kakiku tidak bertambah sepertinya.” Aku akan menjajal-lagi- sepatu unik ini. Namun sebuah raungan dari dalam time capsulku membuatku tidak jadi memasukkan sepatu itu ke kakiku. Time capsulku berantakan.
“Apa ini? Kenapa berantakan? Suara apa itu?” Kataku.
“Kau diamlah, ruang tamu rumah lama mu ini cukup sensitif saat kau menyebut kata bapak.” Aku terdiam.
Aku teringat akan pagi yang dingin, saat itu hari Selasa, 13 Maret 2012.. Ibuku menelpon, lalu aku lari tergopoh-gopoh dari dapur meninggalkan pekerjaan dapurku. Lalu sesaat kemudian aku melempar handphone dan mulai menangis histeris setelah mendengar bapakku anfal. Intan bodoh yang saat itu masih setengah sadar dari tidur lalu akan memasak langsung menyimpulkan bahwa anfal adalah kata lain dari sakaratul maut. Bapakku akan dibawa pulang ke rumah abadinya. Begitulah fikirku. Tetanggaku yang mendengar aku histeris langsung menggedor-gedor pintuku, dengan nada memohon aku minta diantar ke klinik tempat bapak di rawat sejak semalam. Lalu seorang tetanggaku yang lain datang menenangkanku,
“Kamu jangan nangis ya, ayo ikut oom. Kamu jangan nagis.” Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku keluar dari rumah dengan jarak yang terbilang jauh tanpa menggunakan jilbabku.’ Maaf pak, maafin aku gak pake jilbab.’ Aku meronta dalam hatiku sendiri.
Setelahnya aku mendapati ibuku yang terduduk di lantai dengan lemas selagi bapakku yang terus dipompa oksigen melalui mulutnya dan tangan dokter yang terus melakukan  CPR –Cardiopulmonary Resuscitation- dengan tangan karena klinik bodoh ini tidak dilengkapi dengan defibrilator. Saat itu aku terus mengutuk klinik ini melihat bapakku yang sedang diperjuangkan hidupnya.
“Gak papa.. Bapak pasti gak papa..” Mulutku terus bicara hal yang sama saat mereka sedang melakukan CPR. Meyakinkan diriku sendiri bahwa mukzizat Tuhan pasti ada. Namun mukzizat yang sering aku lihat di sinetron itu ternyata bulshit, aku benar-benar terbodohi oleh acting mereka. Bapakku benar-benar menutup mata untuk selamanya di pagi itu. Menangis pun tak sanggup. Kuhampiri ibuku yang menangis, di lantai. Tak ada kata yang aku ucapkan, kecuali gerakan tanganku yang memeluknya. Lalu ruangan tempat bapakku pergi menghadap sang Khalik mulai didatangi banyak orang. Tak sedikit teman bapak yang menangis sampai terdengar suaranya. Aku di sini bahkan tidak bisa menangis lagi. Air mataku tidak mampu keluar.
“Maaf ya bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu.. Sepertinya bapak ada penyakit jantung..” Dokter perempuan itu memeluk ibuku yang lemas di lantai.
“Jangan di tutup.. Kasian bapak gak bisa nafas..” Kataku pelan. Aku membuka kembali kain yang menutupi bapak penuh hingga wajahnya. Memeluknya untuk terakhir kali, menangis diam-diam sambil mendengar desisan kecil yang keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Aku berfikir bapakku masih bernafas, tapi ternyata itu adalah oksigen yang keluar lagi setelah sempat di pompa ke dalam tubuhnya. Organ dalam bapak benar-benar sudah tidak berfungsi.  Aku masih menanggalkan kepalaku di atas dada bapak. Beliau meninggal dalam keadaan yang benar-benar bugar. Tidak terlihat kurus, sedikitpun tidak. Bapak masih seperti hari sebelumnya saat beliau masih terbuka matanya, masih bernafas, masih menjemputku pulang sekolah, bahkan saat masih bertenaga untung menendang pintu kamarku agar aku terbangun.
“Tan, pulang ya.. Siapin baju..” Dalam tangis ibuku berkata seperti itu.
“Gak mau..” Aku menggandeng ibuku, bermaksud mengajaknya ikut bersamaku.
“Ayo, Tan..” Aku diajak pulang oleh keponakan bapak. Tak hentinya aku terisak menahan tangis di perjalananku pulang. Sampai di ruang tamu, beberapa tetanggaku sudah ada du rumah untuk membersihkan rumahku.
“Yang sabar ya nduk..” Seseorang mengusap punggungku, aku tidak tahu siapa karena mataku cukup buram tergenang air mata. Aku dipeluk lagi. Aku ingin menangis keras-keras, Ya Tuhan.. Aku mendudukkan diriku di ruang tamu, membiarkan air mataku tumpah. Lalu aku beranjak ke kamarku, duduk lagi masih belum percaya kejadian pagi ini. Aku masih percaya bahwa ini adalah sebuah mimpi. Aku mulai memasukkan bajuku, lalu baju ibuku, lalu beberapa potong baju bapakku, lalu sedikit baju adikku. Aku masih berfikir saat sudah sampai di kampung bapak akan bangun. Itulah yang terngiang-ngian dalam fikiranku.
Aku menyeka air mataku, lalu mulai memeluk ruang tamuku. “Maaf, sudah membuatmu meraung-raung. Apa kau tidak lelah? Sudah. Semuanya sudah baik-baik saja.. Kami semua sudah ikhlas.. Kau juga harus meng-ikhlaskan bapak..” Suaraku bergetar meredam sisa-sisa tangisanku.
Mereka yang ada di dalam box juga ikut menangis, menyimak cerita lalu yang cukup menyakitkan untukku.
“Hei, kenapa kalian menangis? Apa kalian ingin time capsulku basah lalu kebanjiran?”
“Kami tidak tahu kau sekuat ini..” Kata buku diary usangku.
“Kau tidak tahu? Bahkan aku sering bercerita padamu, kau pelupa ya?”
“Kau tidak bercerita padaku tentang bapakmu..” Katanya lagi.
“Aku bercerita pada diriku sendiri, aku tidak ingin membagi kesedihan ini pada siapapun..” Jawabku.
“Ruang tamu rumahmu?”
“Dia saksi..” Kataku lagi.
“Intan, apakabar ibumu?” Tanya ruang tamu. “Seminggu setelah kepergian bapakmu, ibumu sering duduk termenung di sini, matanya melihat TV tapi fikirannya jauh dari TV.” Lanjutnya.
“Beliau sudah sangat baik-baik saja sekarang. Kami semua sudah sangat ikhlas..” Aku tersenyum lalu mulai mencari sesuatu lagi di time capsulku.
“Kenapa kalian tidak membuat time machine saja, biar flashbacknya lebih nyata, sehingga tidak perlu menumpuk kami di  tempat sempit ini..” Oceh tas kecilku. Kata-katanya membuatku berhenti mencari sesuatu itu lalu duduk di depan box ini.
“Mana bisa waktu berputar ke belakang kecuali dengan kuasa Tuhan, kau bodoh! Walaupun kami sangat modern, kami selalu dan semakin menjunjung sila pertama Pancasila, kami tidak akan mungkin melangkahi kuasa Tuhan.” Mereka dan tas kecilku diam.
“Kalau kalian lelah aku tumpuk di sini, apakah kalian ingin aku keluarkan satu persatu, lalu bebas ke mana saja dan menikmati zaman kami? Tapi aku tidak yakin bisa memasukkan kalian kembali dengan potongan-potongan cerita yang lengkap. Ya, kalian tahu aku pelupa, dan kalian juga tidak bisa masuk ke dalam time capsul ini sendiri kaan?” Aku mendengar mereka mulai berbisik-bisik.
 “Aku tidak yakin jika kalian keluar kalian tidak akan mengacak-acak isi hariku, atau bahkan mengacak-acak hubunganku dengan dia saat ini... AH! Atau kalian ingin aku bersihkan saja dari time capsul ini? Lalu aku akan mengganti kalian dengan kenanganku bersamanya yang pastinya tidak akan seberisik kalian..” Aku bermaksud meledek mereka. Hahaha
“Hey! Berhentilah bicara hal mengerikan itu! Kami tidak punya tempat berlindung, bodoh!” Tile scrabble pertamaku yang berhuruf I dengan 1 nilai itu terdengar cemas.
“Yasudah, kalau begitu syukurilah box usang ini..”
“Lalu,  apa kau akan menumpuk kenanganmu bersamanya di sini?” Tanya uangku.
“Lalu, apa aku harus membeli box baru untuk kenanganku yang baru?” Aku balas bertanya.
“Jangan! Kau pasti akan melupakan kami, biarkan saja kenangan baru mu bersama kami supaya kami saling mengenal lalu bersatu.” Sergah almamater sekolahku.
“Aku tak yakin, jika kalian tidak akan menyiksa kenangan baruku..”
“Hey! Kami dibentuk oleh hari-hari bodohmu, apa di masa lalu kau pernah menyiksa temanmu?” Tanya kaus kakiku yang sudah sobek.
“Apa otak kalian di zaman ini sudah tidak perlu digunakan untuk memikirkan masa lalu? Waahhh, sombong sekali. Mengapa kau tidak masukkan saja otakmu bersama kami di box ini?” Kata-kata dari pulpenku membuatku ingin membuangnya ke tempat peleburan sampah.
“Hey, bodoh! Berhenti mengomel macam-macam.  Jika otakku masuk time capsul ini, aku harus menyimpan fikiranku di mana? Di perut? Lalu bagaimana dengan sesuatu yang aku makan? Kau gila?”
“Lalu apa sebutan untuk orang yang telah menciptakan kami? Tidak waras?” Balas jam tanganku.
“Sudahlah, aku hanya akan meninggalkan sedikit kenanganku di hari kemarin bersamanya disini. Hanya sedikit, aku yakin tidak akan membuat kalian begitu sesak. Sisanya, tidak akan ada yang menjadi kenangan, aku akan merekamnya sebagai moment. Karena kami berdua akan langgeng selamanya, kami berdua tidak akan menjadi kenangan seperti, ini, ini, dan kau, benda-benda masa lalu...” Aku menunjukk gelas, gelang dan jam tanganku yang rautnya berubah kesal.
“Lalu, di mana kau akan merekam moment-moment mu?” Tanya penghapus dekilku.
“Di mataku, di otakku, di hatiku, di aliran darahku, di bibirku..”
“Jika semuanya sudah penuh?” Potong boneka kelinciku.
“Ohh, mungkin aku harus membeli box lagi yang lebih besar, moment capsul..”
“Jangan pernah lakukan itu! Aku yakin kau akan melupakan kami.” Seru pesawat kertas pertama hasil tanganku.
“Kau pelupa! Bisa-bisa kau membuang kami bersama sampah kertasmu!” Tambah kamus Bahasa Korea ku.
“Huwahh, andaikan aku punya tangan pasti aku sudah menjambak rambutmu hingga rontok..” Geram sapu tanganku.

‘cklekk’

Akhirnya aku menutup time capsulku, tersenyum legam mendapati semua baik-baik saja, kecuali ruang tamuku yang masih sedikit terisak. Aku tidak akan melupakan apalagi membuang kalian, kenangan bodohku. Seburuk apapun mereka di masa lalu, aku tidak akan bisa membuangnya. Mereka adalah perjalanan hidup. Lagi pula, mana ada manusia yang bisa membuang secuil saja masa lalunya? Alat yang bisa seperti itu belum di temukan. Tentang moment capsul, mungkin aku akan memasangnya bersama cincin pertunanganku dengannya. Sepertinya sekarang aku harus melakukan penelitian lalu membuat penemuan baru. Hahahaha!
“Jika suatu hari nanti kau dan dia akan berakhir, apa kau akan menyimpannya bersama kami?” What the hell! Ini suara buku diary ku.
“Kau! Mengapa kau masih ada di luar?”
“Kau lupa memasukkanku ke sana.. Suatu saat nanti, apakah kau akan memasukkannya ke box bersama kami?” Ulangnya.
“Pertanyaan bodoh! Kami tidak akan berakhir, kau tahu. Kami sudah cukup dewasa, tidak ada waktu untuk bermain-main dan tidak serius dalam hubungan. Kita tidak akan terpisah. Kalaupun suatu saat nanti dia harus menjadi kenangan dan masuk ke time capsul ini, aku akan masuk bersamanya. Membuat cerita baru lagi, lalu membuat time capsul  lagi. Lalu jika dia akan jadi kenangan dan masuk ke dalam time capsul ku yang baru, maka aku akan mengulang cara yang sama, aku akan ikut masuk bersamanya lagi, membuat time capsul lagi, begitu seterusnya.. ”
“Kau memang bodoh..”
“Aku lebih merelakan roda percintaanku berputar dengan orang yang sama dari pada berputar dengan dua jenis manusia, yang nyata dan yang semu. Dan aku tidak bodoh, diary sayang.. Aku gigih. Kau lihat, aku bisa bertahan dengan yang lebih nyata. Kau yang bodoh!”
“Siapa yang bodoh?” Tanya suara lain yang lebih berat. Itu pasti seseorang yang  sedang aku ributkan bersama buku diary ini.
“Tidak ada.. Mengapa kau datang?” Aku menghampirinya.
“Tidak bolehkah? Aku lapar. Ayo kita makan..” Aku mengangguk, dan mengikuti langkah jenjangnya keluar dari kamarku. Sesekali menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah untuk meledek buku diary yang terkapar di lantai.
“Kau tidak bodoh.. ” Aku tersenyum lebar mendengar suara yang sayup-sayup ku dengar dari balik pintu. Suara diary ku.

-END-

Terimakasih.. pelukanmu

pernahkah kamu merasa sendirian?
pasti pernah..
pernahkah kamu merasa kamu mengecil?
pernahkah?
atau hanya aku saja?
lalu pernahkah kamu merasa kamu terpojok?
di tempat penuh kehidupan di sekitarmu?
dengan kata lain..
kamu merasa kesepian ditengah keramaian yang ada?
mungkin ada yang pernah..
mungkin ada yang tidak sama sekali..
atau mungkin hanya aku sendiri?
kertas.. apa kamu akan merasa tak lengkap tanpa pena?
pena.. apa kamu merasa tak sempuna tanpa putihnya kertas?
jangan merasa kalian tak sempurna tanpa yang lainnya..
karena kalian berdua telah menyempurnakan aku..
menyempurnakan kesendirianku..
menyesap aroma sepi pekat dari hatiku..
melumat habis rasanya terpojokkan tak berteman..
kepada baling-baling yang senantiasa berputar untukku..
terimakasih telah meniup jauh iri dengki ku,
kepada mereka yang bisa tertawa lepas terbahak bersama yang tersayang
yang tanpa ada aku di tengah mereka walau sesungguhnya aku dekat.
aku sudah biasa.. aku cukup kebal.. aku sangat kuat..
kesepian, kesendirian, terabaikan?
lalu apa lagi yang harus kubuatkan benteng untuk itu?
aku tau..
teori aku jadi kamu atau kamu jadi aku memang ada..
tapi saat aku ingin jadi kamu..
namun kamu tak membuka pintu untuk aku..
atau saat kamu sama sekali tidak mau jadi aku
namun aku tak mau jadi kamu..
egois.
bahkan bukan secarik frasa..
aku diminta membuka hati,
namun saat aku membukanya kamu menahan dari luar..
agar aku tak bisa membuka hatiku..
jahat..
salah..
siapa yang salah?
kalau kamu tau, aku juga tak mau selamanya seperti ini..
seperti bicara sendiri dalam kotak,
tertawa sendiri oleh gambar-gambar ilusi..
menangis tanpa teman karena fiksi..
bercerita tersendu-sendu dengan pena dan kertas..
aku ingin berteman..
namun aku tak bisa masuk ke dalam kalian.
sekarang disinilah aku..
dalam kotak remang gelap..
pengap lembab..
yang bisa memberiku kehangatan layaknya kawan yang sesungguhnya..
agak gila memang menyebut kotak ini kawan..
namun apa daya aku yang tak berkawan..
aku hanya bisa mendengar dari kotak ini..
terimakasih..
gelap.. pengap.. remang.. lembab..
terimakasih atas pelukanmu hari ini..

Sabtu, 02 Mei 2015

Goresan Tipis Sang Pengagum Rahasia

teruntuk: kau yang menjadi senyumanku
ini aku..
yang selalu melihatmu dari jauh..
yang tersenyum dengan banyak kupu-kupu saat kau melengkungkan bibir ke atas..
ini aku..
yang menatapmu amat sangat lekat..
ya, dari balik jendela..
yang selalu menjaga radius untuk jauh-jauh darimu..
bukan, aku bukannya benci denganmu..
aku bukannya tidak suka denganmu..
aku hanya merasa sesuatu di dalam sana tidak terkontrol..
aku takut aku tak bisa bergerak jika terlalu dekat denganmu..
ini aneh, karena aku bilang kau adalah energi ku..
tapi kenapa aku tak bisa bergerak?
kamu boleh sebut aku pecundang..
yang beraninya dari belakang,
yang seenaknya mencuri fotomu,
yang terus bermimpi ada di sebelah kirimu..
yang selalu bilang kalau kau adalah jodohku..
ah, tapi sepertinya kata pecundang terlalu sakit untuk seorang wanita sepertiku..
jangan sebut aku pecundang ya..
sebut saja aku secret admirer..
kalau kau terlalu geli menyebutnya, anggap saja aku ini fans fanatikmu..
tidak perlu hiraukan aku,
tidak perlu anggap aku ada,
tapi jangan pernah membenciku ya..
aku hanya mengagumi mu, dan berharap suatu saat bisa dekat denganmu..
aku secret admirer mu...

tertanda: orang yang bahkan tidak kau kenali

dari aku

Hai.. Awan mengapa engkau begitu gelap..
Hai angin, aku suka hembusanmu yang dingin..
Diiringi instrumental alami darimu angin dan wajah sendu mu awan,
Bolehkah aku tersenyum mengingat harapan yang lalu?
Ambigu..
Aku bahkan tak mengerti, apa hatiku ada dua?
Atau mungkin sistem otakku ganda?
Bibirku tertarik lebar untuk tersenyum, awan..
Aku yakin mata mereka yang melihatku menyimpulkan bahwa aku ini sedang kasmaran..
Tapi awan, ada sayatan-sayatan kecil nan tipis di dalam sana..
Tidak membuatku sakit, tapi cukup membuatku sesak..
Antara ingin tertawa kuat-kuat atau menangis keras-keras..
Angin,, apakah itu kau? Yang menerbangkan ribuan kupu-kupu di dalam perutku?
Sentuhan dinginmu di tengkukku sungguh membuat tanganku ingin menggenggam tangan lain..
Akan lebih dingin bukan jika kedua tanganku saling genggam..
Aku ingin menggenggam tangan yang lain..
Ah, itu tidak mungkin..
Bahkan aku hanya sendirian disini..
Sudahlan, temani aku ya angin..
Dinginkan saja kedua tanganku yang memang sudah hampir beku ini..
Awan, apa aku berdosa jika aku mengingat apa-apa yang pernah aku berikan kepada orang lain?
Sekalipun itu perkataanku?
Apakah aku boleh meminta kembali kata-kata yang pernah aku ucapkan padanya, awan?
bolehkah?
Atau tidak?
Aku suka hal yang indah, sekalipun itu masa lalu..
Aku suka mengingat, walaupun itu masa lalu..
Apalagi masa lalu yang indah..
Indah dengan segala kemesraan manis
Berbalut senyum yang kadang lebar kadang tipis
Tersinari oleh mata yang berbinar..
Bernada untaian-untaian rayuan manis..
Namun sayang.. penuh dengan harapan yang tergantung..
Harapan palsu yang tergantung..
Aku bodoh ya, Awan, Angin..
Biarkan aku sejenak melegakan detakan jantungku yang tak mau tenang ini..
Dengan mengingat percakapan kami dulu, yang untungnya masih tersimpan..
Agar aku bisa merasa seolah-olah dia masih seperti dulu..
Walau sebenarnya berbeda jauh..
Maafkan aku harapan palsuku..
Aku masih mengharapkanmu walau aku tahu kau itu semu..

~dari aku yang dulu pernah kau taburi dengan harapan~