Setelah hantaman keras
tadi, aku melanjutkan perjalananku menyusuri jalan ini. Jalan di mana tangan
kita saling genggam, bibir kita mengeluarkan apa-apa yang disimpan hati selama
tiga hari belakangan. Ya, kita bertemu setiap tiga hari. Ingat? Aku dituntun aroma kopi saat masuk ke dalam
gang rindang ini. Aroma kopi dan roti yang baru keluar dari oven benar-benar
membawaku mengingat hari itu, saat tiba-tiba kita sama-sama mengambil bangku
terakhir yang berada di dekat jendela, lalu sama-sama berakhir duduk di luar
kafe karena ternyata bangku itu sudah di pesan. Lucu. Namun cerita setelahnya
tak selucu itu. Tiga hari kemudian kita tak sengaja bertemu di tempat yang
sama. Ternyata kita memiliki kesamaan lain, setiap Rabu pukul tiga sore kita
sama-sama datang untuk duduk di dekat jendela. Aku juga tidak tahu mengapa kita
baru saling kenal bahkan tahu jika kita sama-sama pelanggan tiga hari di kedai
kopi itu. Kita terlalu sibuk dengan dunia jendela kita, katamu hari itu saat
kita sama-sama sepakat untuk berkenalan tepatnya mengulangi perkenalan kita
dengan layak. Setelahnya, kopi yang biasanya aku pesan menjadi lebih hangat dan
lebih manis walau takaran es dan gulanya tak pernah kuubah. Oh, kopiku bahkan
terbawa suasana kita. Dulu.
Aku bahkan lupa apa yang membuatmu,
aku, kita melepas genggaman tangan kita. Hari Rabu pukul tiga sore tak lagi
menjadi finish penantianku. Lingkaran itu, aku telah lupa apa yang membawaku
keluar dari lingkaran Rabu itu. Aku tak tahu, masihkah kamu ada di lingkaran
itu? Aku tak lagi melihatmu di Rabu pukul tiga sore. Apa kau mengganti waktumu?
Aku yang membawa segenggam penuh rasa penasaran dalam kepalan tanganku ini
memutuskan untuk datang setiap hari ke kedai kopi itu. Masih bertanya dan
mengulang pertanyaan yang sama. Akankah kamu datang hari ini? Aku melakukan hal
yang sama, setiap hari ketiga, setiap pukul tiga. Aku tak menyadari bahwa rasa
penasaran dalam tanganku semakin menyusut. Hingga pada hari itu, pada bulan
ketiga dengan toleransi tiga hari, tiga puluh tiga hari sudah aku kehabisan
rasa penasaranku. Aku memutuskan menyudahi penantianku, menghapus habis
pertanyaan dengan jawabanku sendiri. Kau tak datang, dan mungkin tak akan
pernah datang.
Hari ini aku berjalan
menuju gang itu lagi, setelah tiga revolusi bumi. Tahun ketiga. Aku menyesap
kopi ini dengan senyumku. Tak lagi hangat, manisnya pun pas, sama seperti
sebelum aku bertemu denganmu. Semua masih sama, kecuali toko roti itu yang kini ber-cat abu-abu, tak lagi merah muda.
Aku mencibir, tak ada bedanya denganku sekarang. Bagaimana kabarmu? Kau
melakukan segalanya dengan baik kan? Karena yang aku tahu kau sosok yang
sempurna dengan segala hal yang kau arahkan dari bawah tanganmu. Ah, satu
lagi.. Sekarang, siapa yang menemanimu minum kopi di dekat jendela?Ah,
sepertinya aku harus menelan habis pertanyaanku setelah ingat akulah yang
membuat hantaman keras tadi, membuatmu dan seseorang yang menggenggam tanganmu
melambung ke atas lalu jatuh dengan teriakan mereka.
Ambigu yaks-_- Well, sejauh ini, inilah cerpen yang berhasil gw kemas dengan kemasan cerpen. Biasanya suka lebih dari kepanjangan soalnyaa-_- Ini juga cenderung ke monolog sih ya bentuknya. Dan inilah monolog yang berhasil gw jadikan monolog beneran. Karena yg sebelum2nya, monolog yang gw ciptakan lebih cenderung berbentuk puisi atau syair sih ya. Hahaha! Terimakasih sudah membuang waktu untuk membaca ini. Salam genre!! *eh! gagalfokus*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar