Sabtu, 19 Maret 2016

Tiga




Setelah hantaman keras tadi, aku melanjutkan perjalananku menyusuri jalan ini. Jalan di mana tangan kita saling genggam, bibir kita mengeluarkan apa-apa yang disimpan hati selama tiga hari belakangan. Ya, kita bertemu setiap tiga hari. Ingat?  Aku dituntun aroma kopi saat masuk ke dalam gang rindang ini. Aroma kopi dan roti yang baru keluar dari oven benar-benar membawaku mengingat hari itu, saat tiba-tiba kita sama-sama mengambil bangku terakhir yang berada di dekat jendela, lalu sama-sama berakhir duduk di luar kafe karena ternyata bangku itu sudah di pesan. Lucu. Namun cerita setelahnya tak selucu itu. Tiga hari kemudian kita tak sengaja bertemu di tempat yang sama. Ternyata kita memiliki kesamaan lain, setiap Rabu pukul tiga sore kita sama-sama datang untuk duduk di dekat jendela. Aku juga tidak tahu mengapa kita baru saling kenal bahkan tahu jika kita sama-sama pelanggan tiga hari di kedai kopi itu. Kita terlalu sibuk dengan dunia jendela kita, katamu hari itu saat kita sama-sama sepakat untuk berkenalan tepatnya mengulangi perkenalan kita dengan layak. Setelahnya, kopi yang biasanya aku pesan menjadi lebih hangat dan lebih manis walau takaran es dan gulanya tak pernah kuubah. Oh, kopiku bahkan terbawa suasana kita. Dulu.
Aku bahkan lupa apa yang membuatmu, aku, kita melepas genggaman tangan kita. Hari Rabu pukul tiga sore tak lagi menjadi finish penantianku. Lingkaran itu, aku telah lupa apa yang membawaku keluar dari lingkaran Rabu itu. Aku tak tahu, masihkah kamu ada di lingkaran itu? Aku tak lagi melihatmu di Rabu pukul tiga sore. Apa kau mengganti waktumu? Aku yang membawa segenggam penuh rasa penasaran dalam kepalan tanganku ini memutuskan untuk datang setiap hari ke kedai kopi itu. Masih bertanya dan mengulang pertanyaan yang sama. Akankah kamu datang hari ini? Aku melakukan hal yang sama, setiap hari ketiga, setiap pukul tiga. Aku tak menyadari bahwa rasa penasaran dalam tanganku semakin menyusut. Hingga pada hari itu, pada bulan ketiga dengan toleransi tiga hari, tiga puluh tiga hari sudah aku kehabisan rasa penasaranku. Aku memutuskan menyudahi penantianku, menghapus habis pertanyaan dengan jawabanku sendiri. Kau tak datang, dan mungkin tak akan pernah datang.
Hari ini aku berjalan menuju gang itu lagi, setelah tiga revolusi bumi. Tahun ketiga. Aku menyesap kopi ini dengan senyumku. Tak lagi hangat, manisnya pun pas, sama seperti sebelum aku bertemu denganmu. Semua masih sama, kecuali toko roti itu yang  kini ber-cat abu-abu, tak lagi merah muda. Aku mencibir, tak ada bedanya denganku sekarang. Bagaimana kabarmu? Kau melakukan segalanya dengan baik kan? Karena yang aku tahu kau sosok yang sempurna dengan segala hal yang kau arahkan dari bawah tanganmu. Ah, satu lagi.. Sekarang, siapa yang menemanimu minum kopi di dekat jendela?Ah, sepertinya aku harus menelan habis pertanyaanku setelah ingat akulah yang membuat hantaman keras tadi, membuatmu dan seseorang yang menggenggam tanganmu melambung ke atas lalu jatuh dengan teriakan mereka. 


Ambigu yaks-_- Well, sejauh ini, inilah cerpen yang berhasil gw kemas dengan kemasan cerpen. Biasanya suka lebih dari kepanjangan soalnyaa-_-  Ini juga cenderung ke monolog sih ya bentuknya. Dan inilah monolog yang berhasil gw jadikan monolog beneran. Karena yg sebelum2nya, monolog yang gw ciptakan lebih cenderung berbentuk puisi atau syair sih ya. Hahaha! Terimakasih sudah membuang waktu untuk membaca ini. Salam genre!! *eh! gagalfokus*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar