Cerita dikit deh, ini cerpen dari gue kelas dua belas, dan sekarang due udah semester tiga, iya kuliah. Kebayang lah gimana nganggurnya nih cerita :( maapin author mu pen, cerpen. Maaf aja kalo ceritanya jadi ga singkron, gue lupa gimana skenario endingnya. Last but not least, i've do my best for this. FYI, yah kalo mau tau aja sihh, ini gue lanjutin barusan jam 20.00-20.22 wkwk baru kepikiran upload. Fresh from the oven dah pokoknyee~
###
Seorang pemuda tersenyum tipis setelah
melihat kertas yang baru saja ditempel oleh gadis yang buru-buru pergi
meninggalkan mading dengan wajah tertunduk. Pemuda itu hanya tersenyum simpul
melihat punggung gadis yang semakin menjauh.
“Jejak Kupu-Kupu? Jadi tema hari ini
monolog?” gumam pemuda itu pelan.
“Fin! Gimana
kemaren lo dari Medan?” seorang yang terlihat sebaya menepuk pemuda yang
tersenyum mematung di depan mading tadi.
“Eh,
lo Za. Alhamdulillah,
gue bawa piala juara umum buat SMA kita,” ucap pemuda tadi lalu tersenyum, Daffin
Gian Raditya namanya. Seorang kapten basket, ketua KIR SMAN 18 yang tidak
diragukan lagi kemampuan dan talent nya.
“Nunggu apalagi sih lo Fin, eksis di
KIR udah, basket udah, tinggal eksis di hati someone special yang belom lo
lakuin..” Reza yang menepuk kembali pundak Daffin sembari membenahi kerah baju
Daffin. Daffin menepis kasar tangan Reza lalu ikut tertawa
“Hahaaha! Ngaco lo pagi-pagi, udah sekarang kita ke kelas aja..”
Daffin merangkul sahabatnya menuju kelas.
“Fin, yakin lo gak punya specialone? Lo
masih normal kan?” Reza masih mengulang pertanyaan yang sama. Daffin masih
tersenyum menanggapi candaan Reza.
“Lo tenang aja Za, gue normal kok, hahaaa! Gue punya seseorang yang lebih dari
special..” Mata hazel Daffin menerawang, bibir tipisnya menyunggingkan seulas
senyum yang meneduhkan siapa saja yang melihatnya.
“Gw cuma mau bilang, perjuangin cinta lo
Fin..” Reza berkata bijak saat ini.
“Pasti,
Za..”
“Ohh,
Daffin udah punya specialone.. ” Ternyata sedari tadi ada seorang gadis yang
mendengar obrolan ringan Reza dan Daffin yang mengakibatkan jantung hatinyanya
pun ikut ringan diterbangkan harapan yang selama ini ia pendam. Ia tersenyum
miris dan meninggalkan bangku kecil di balik tiang penyangga lonceng sekolah.
Saat gadis itu melangkah lunglai menuju kelasnya,sepasang kaki menghadangnya
tepat dihadapannya. Hanya dengan melihat sepatunya,ia mampu mengenali siapa
yang mengadangnya saat ini.
“Heh,
bego jangan halangin jalan gue!”
Ucap seseorang yang menghadangnya dengan nada tinggi.
“Heh,
cerdas! Lo yang halangin jalan gue.” ucap gadis itu santai.
“Ya
terserah gue
dong, kaki-kaki gue.”
ucap orang yang menghadangnya dengan nada cuek.
“Ya
suka-suka gue
juga, ini kaki gue
dan inget, ini jalan bukan milik nenek moyang lo.” gadis tadi melanjutkan langkahnya dan menyentak bahu
orang yang tadi menghalangi jalannya.
“Shit!!”
Umpat seorang gadis penghadang jalan tadi. Matanya membola, wajahnya memerah,
agaknya ia benar-benar marah karena ulah konyolnya sendiri.
“Heh,
alay! Ngapain
lo disini ntar lagi Bu Liona masuk.” Si
gadis penghadang jalan melihat siapa yang memanggilnya dengan sebutan ‘alay’
tadi.
“Eh,
lo itu yang alay nama gue
Flara bukan ALAY” Gadis
penghadang jalan yang ternyata bernama Flara menekan kata-kata terakhirnya tadi
lalu pergi meninggalkan orang yang memanggilnya alay.
“Alay teriak alay lo! Dasar
alay!” Lala masih saja sempat meneriaki Flara yang sudah jauh mendahuluinya.
Flara yang mendengarnya hanya mengacungkan jari tengah kearah Lala.
Suasana kelas yang tadinya riuh ribut
seketika hening tatkala seorang ibu paruh baya memasuki kelas tersebut, Bu
Liona guru matematika yang terkenal galaknya. Air muka Bu Liona memang terlihat
lebih garang dari sebelumnya entah mungkin karena jadwal haid nya yang gagal.
Bahkan sebelum ketua kelas menyiapkan murid, ia
sudah terlebih dahulu bilang
“Keluarkan
pr kalian.” Singkat, sangat
singkat namun fatal jika tidak dilaksanakan.
“Ibu. Maaf
saya terlambat, tadi saya dari UKS.” Ucap
seseorang dari depan pintu dengan nada sok manis lalu menghampiri Bu Liona dan
mencium tangannya. Flara, dia Flara si gadis alay.
“Alay lu.” Umpat gadis yang tadi sempat
dihadang Flara sebelum masuk kelas. Nadya, nama gadis yang tadi sempat dihadang
Flara.
“Eh, bego apa lo bilang tadi?” Sentak
Flara yang mendengar umpatan Nadya. “Bodo!” Cuek Nadya lalu melangkah ke
depan kelas untuk mengumpulkan pr nya.
***
Entah apa yang membuat Flara sangat mengintimidasi Nadya, teman sekelasnya. Flara termasuk pede dan berani menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap Nadya teman sekelasnya yang dipandang lugu dan pendiam oleh rata-rata orang yang yang mengenalnya, karena status Flara sendiri adalah murid pindahan dari Jakarta. Sedangkan Nadya bukanlah murid pindahan seperti Flara. Sepertinya kehidupan sekolah mereka terbalik.
“Lomba menulis?” Bisik Nadya. Ia menghentikan
langkahnya yang terburu setelah melihat secarik kertas biru muda yang ditempel
tak jauh dari kertas cerpen yang baru saja ia tempel untuk yang kesekian
kalinya. Ya, gadis dengan langkah terburu dan kepala tertunduk yang senantiasa
menempel cerpen di mading adalah Nadya, rival Flara.
“Ah,
gak mungkin gue
bisa ikut.” Nadya menghembuskan nafas berat lalu berniat meninggalkan mading
sebelum sekolah mulai ramai. Karena ia hanya diam-diam menempelkan cerpennya.
“Kenapa, kenapa gak mungkin?” Seseorang
pemuda berkata dengan nada meremehkan, namun bersamaan itu Nadya menabraknya
karena ia kaget dan tak menyangka akan ada seseorang yang berada di sampingnya.
“Eh,
sorry..” Ucap Nadya lemah. Ia mendongakkan kepalanya, mata hitam kecoklatannya
membola melihat siapa yang ada dihadapannya. Daffin, si kapten basket yang menerbangkan
hati Nadya dengan harapan yang Nadya pendam.
“Gue..”
Ucapan Daffin terpotong saat mendengar
Nadya “Lo Daffin Gian Raditya..
Si kapten basket, ketua KIR yang kemaren baru pulang dari Medan buat lomba KIR
selama tujuh hari, dan bawa juara umum tingkat
nasional buat SMAN 18..”
Bibir mungil Daffin tersenyum manis mendengar
penuturan Nadya yang menurutnya cukup lengkap. Senyum yang tadinya sempat
mengembang di bibir chery milik Nadya pudar dan Ia kembali menundukkan
kepalanya.
“Dan lo Nadya Vero Jasselyn, orang
sok misterius yang selalu nempel cerpen dan monolog galau tanpa nama di mading
setiap pagi, orang yang selalu terburu dan nundukin kepala kalo lagi jalan.
Emang gak takut nabrak lo? Hahaa!
” Gelak tawa Daffin pecah melihat Nadya yang masih tertunduk. Bibir chery Nadya
menahan senyum, ia menyembunyikan wajahnya yang mulai merona karena
semburat-semburat merah yang muncul bersamaan saat ia menahan senyumannya.
“Daffin tau nama gue?” Batin Nadya. Jika saat ini ia
tak bersama Daffin mungkin ia sudah melompat-lompat kegirangan seperti anak
kecil yang mendapat mainan kesukaannya, atau mungkin bahkan anak kelinci yang
mendapat wortel dari induknya.
Perlahan, Daffin menyentuh pundak Nadya,
bermaksud untuk membuat Nadya melihatnya. Tak berhasil, walau kepalanya sudah
tak menunduk, Nadya masih dapat bersembunyi di balik tatapan matanya yang lurus
kebawah, dan rambut ikal lembutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Daffin
menyibakkan rambut Nadya, dan sekarang ia mampu melihat jelas wajah kuning
langsat Nadya yang merupakan khas milik orang Asia dengan sedikit semburat
merah merona milik orang yang tengah salah tingkah.
“Kenapa sih lo selalu nunduk?” Nadya
membuang pandangannya dalam-dalam, ia mengarahkan fokus kornea hitam
kecoklatanya ke bawah, ke arah sepatunya dan sepatu Daffin yang saat ini hanya berjarak satu
kotak ubin.
“Gue
gak pernah mimpi sebelumnya bakal sedeket ini sama lo, Fin” batin Nadya lagi.
“Nad, gue di depan lo, bukan di bawah kaki lo..” kata Daffin
lagi.
“Jangan takut, Nad. Apa gue se-menakutkan itu?”
Perlahan Nadya membawa mata hitam kecoklatannya menatap mata hazel Daffin yang
sedari tadi berbicara dengan nada penuh harap. Mata mereka bertemu dalam satu
titik, mungkin bisa diibaratkan satu titik di mana garis X dan Y terpusat,
titik keteduhan, kepercayaan, dan titik yang tak biasa. Nadya sempat terjerat
dalam titik itu, namun akhirnya ia sadar hanya ia yang merasa nyaman,
perasaannya saja. Namun nyatanya Daffin pun merasakan kenyamanan yang sama.
“Eh.. hm.. Fin, g..gue mau ke kelas dulu ya, iya gue mau ke kelas dulu, bay.” Nadya
yang tersadar langsung meninggalkan Daffin yang masih terpaku dengan titik mata
mereka. Kali ini Nadya tidak mengambil langkah cepat seperti biasanya, ia
berlari bak cheetah yang mengejar mangsanya.
“I
am lost in your eyes..” ucap Daffin pelan, lalu meninggalkan mading dengan
langkah santainya.
Fikiran Nadya masih terkontaminasi
oleh efek tatapan mata hazel Daffin yang selama ini hanya ia harapkan tanpa
berfikir harapan itu akan terealisasikan.
“Sok pinter lu, ulangan bukannya belajar
malah ngelamun..” Sentak Flara, rival Nadya yang tak henti-hentinya mencampuri
segala urusan Nadya bahkan urusan yang paling kecil dan sepele.
Muak, itu yang dirasakan Nadya pada
si rival aneh itu. Iri, Nadya sedikit iri dengan Flara yang selalu membanggakan
kemampuannya di bidang Biologi, keterampilannya dalam bidang kesenian, bakatnya
menulis cerpen. Namun Nadya tak bisa berkata apapun, itu hak Flara yang boleh
membanggakan segala keahlian yang dimilikinya. Perfect, kata yang selalu Nadya
ungkapkan untuk menggambarkan Flara sang rival. Flara tinggi, badannya ideal,
cantik dengan wajah oriental yang putih bersih, rambut panjangnya hitam lurus
tanpa gelombang, mata
sipitnya bening dengan kornea hitam, Perfect.
Menurut cerita Flara, ia juga telah
menjuarai olimpiade Biologi di Jakarta yang berarti Flara telah mewakili
daerahnya mencapai tingkat nasional bukan? Ia mendapat berbagai beasiswa,
sekolahnya pasti terjamin. Belum lagi ia adalah anak dari seorang manager
perusahaan yang cukup besar dan terkenal, ibunya seorang bidan, pasti ia
memiliki banyak uang. Tidak seperti Nadya yang hanya anak seorang single parent
yang hidup di bawah naungan perusahaan sebagai buruh kecil. Namun ia bangga
pada ibunya.
“I really really proud of her. My beloved mother.” Ucap Nadya setiap ia
memandang ke atas yang tak sebanding dengan kemampuannya.
“Nad..!” teriak Daffin pada Nadya yang
hampir berada di depan gerbang sekolah. Ya, murid SMAN 18 berhambur keluar dari
kelas karena bel pulang memang sudah berbunyi.
“Eh, iya Fin, kenapa?” Nadya
menghentikan langkahnya. Ia tak percaya akan disapa Daffin duluan. Daffin
hanyalah harapan, impian, dan imajinasi Nadya sebelumnya.
“Ikut gue
ke kantor, lo dipanggil kepala sekolah..” Daffin serius. Nadya menatap Daffin dalam-dalam untuk mengingat-ingat,
apakah ibunya belum membayar uang sekolahnya.
“Eh, Fin..” Nadya menahan Daffin
yang hendak membawanya masuk ke dalam kantor kepala sekolah.
“Fin, bilang sama kepsek ntar gue bilang sama ibu gue buat lunasin uang sekolah gue, lo aja yang masuk yaa,” Tatapan nanar Nadya pada Daffin
beralih pada pintu ruang kepala sekolah yang masih tertutup.
“Lo ngomong apa sih? Gak ngerti gue, udah kita masuk.” Daffin
mencengkeram erat tangan Nadya membawanya masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
***
“Orang lain aja ngasih kepercayaan
ke lo, kenapa lo gak mau percaya sama diri lo sendiri?” ucap Daffin pada Nadya
yang tengah merapatkan kedua belah tangannya. Ia seperti was-was dan cemas.
“Fin,
tapi gue gak kayak Flara yang cerdas dalam
segala bidang, gue
cuma penulis amatiran gak kayak Flara yang..”
“Perfect?”
potong Daffin.
“Hahahaa! Flara perfect darimana? Darimana
lo nyimpulin tuh alay perfect? Lagian lo
kenapa sih? Dikit-dikit Flara, Flara, Flara mulu. Lo suka sama doi?”
Daffin tertawa renyah, dari nada bicaranya ia meremehkan Flara.
“Dari cerita Flara. Ya enggak lah! Gue masih normal kali!”
Jawab Nadya mengelak.
Lalu hening.
Tadi memang Nadya dipanggil menuju
ruang kepala sekolah. Bukan untuk menanyakan uang sekolahnya, tapi mengutus
Nadya dalam lomba menulis cerpen remaja tingkat provinsi. Bagaimana bisa kepala
sekolah menunjuk Nadya? Daffin.. ia memberi tahu kepala sekolah bahwa cerpen no
name yang selalu membuat mading tidak sepi itu adalah karya Nadya, nona tidak
populer di SMAN 18. Ternyata, selama ini juga kepala sekolah sedang mencari
siapa yang menulis karangan-karangan indah itu.
“Lo ikut gue..” Daffin membawa Nadya ke bekas
taman belakang sekolah yang menurut anak-anak SMAN 18 sudah jelek tidak terawat,
ilalang tumbuh bebas memanjang, bahkan jalan batu yang tadinya menghiasi
hijaunya rumput jepang di taman ini pun telah tertutup tak berbekas.
“Fin, ngapain ke sini.. ini di mana?” Daffin
menutup mata Nadya dengan kedua tangannya.
“Fin, gue
udah boleh buka mata?” tanya Nadya lagi.
“Bukalah..”
Jawab Daffin singkat. Nadya dapat melihat jelas, keduanya sedang berdiri tepat
di tepi bekas taman sekolah yang agak curam ke bawah. Nadya terdiam bingung.
“Ini gambaran diri lo.” Kata Daffin
dengan sedikit senyumannya. Nadya yang sedari tadi terdiam, kini mengalihkan
pandangannya pada Daffin yang tersenyum mengejek.
“Bahkan gue
lebih dari bekas taman ini Fin..” Nadya membalikkan badannya berniat
meninggalkan Daffin.
“Jangan pergi,” Daffin menahan Nadya. Ia
meraih bahu Nadya dan mencengkeramnya erat.
“Gue
belum nunjukin sesuatu ke lo.” lanjut Daffin. Nadya tak menggubris, ia kembali
melangkahkan kakinya sedikit cepat.
“Please jangan pergi..” Daffin
kembali meraih Nadya melalui pergelangan tangannya yang ia genggam erat.Ya, seetelah mengejar Nadya, ia
berhasil meraih pergelangan tangan Nadya dan menuntunnya ke tempat yang tadi.
“Ayo, kita turun..” ajak Daffin.
“Fin, itu curam dan gue belum mau mati..” Kata Nadya
sedikit gemetaran.
“Kalo kita mati, bakal mati bareng kok. Haha!”
canda Daffin.
“Fin,”
Nadya memukul lengan Daffin yang tengah menggandengnya.
“Genggam tangan gue, lo gak bakal jatuh, gue gak bakal biarin lo jatuh, kalau pun lo jatuh
gue gak bakal relain lo jatuh
sendirian kok,
” Suara Daffin terdengar serius.
“Dih,
gombal lo Fin!”
ucap Nadya pelan.
“Gue
niruin kata-kata dari cerpen lo, berarti lo yang gombal. Ayo
pegang tangan gue,
kita turun sekarang..” Daffin dan Nadya saling mempererat genggaman tangannya.
Akhirnya mereka sampai ke dasar
bekas taman setelah melewati jalan yang agak curam ke bawah. Terlihat jelas
keadaan bekas taman yang dulunya menjadi tempat mojok para siswa yang memiliki
pacar, tempat romantis bagi siapapun yang sedang berada dalam lingkaran cinta,
serta tempat mencurahkan segala emosi dan ambisi insan-insan yang dirundung
galau karena bekas pasangan maupun calon pasangan kini tak terawat, aura hijau
indahnya tertutup ilalang yang merusak pemandangan dan mood siapa saja yang
mengunjunginya.
Daffin masih membimbing langkah
Nadya menyusuri pinggiran danau kecil yang ada di dasar bekas taman dan sangat
tertutup oleh semak ilalang tinggi yang cukup lebat.
“Fin.. sebenernya lo mau bawa gue kemana, sih?” Nadya yang tadinya
hanya seorang pendiam tanpa banyak suara, kini menjadi sedikit cerewet karena
sikap Daffin yang menurutnya agak aneh.
“Ayo,
kita tinggal masuk situ, terus kita bakalan sampe..” Daffin menunjuk semak
ilalang yang tingginya hampir menyamai tinggi badannya.
“Tapi,
Fin..” Nadya menahan lengan Daffin mencegahnya masuk ke dalam semak itu. “Lo
pake ini. Lo takut gatel-gatel kan?” Daffin melepas jaket coklat tua nya dan
menyerahkan ke Nadya.
“Lo,
gue speechless ngadepin sikap lo..” Batin
Nadya lalu memakai jaket Daffin.
Mereka menembus semak ilalang,
perlahan tapi pasti. Daffin menyingkirkan
daun-daun ilalang yang menghalangi jalannya dengan tangan kanannya,sedangkan
tangan kirinya masih menggenggam erat tangan Nadya. Gesekan daun ilalang dengan
jaket Daffin yang cukup membuat Nadya bergidik geli.
“Waw..” decak Nadya melihat apa yang ada
di depannya. Daffin hanya menunjukkan senyum bangga saat melihat bibir chery
Nadya tersenyum melihat apa yang ada di depannya.
Danau kecil dengan banyak teratai,
beberapa dari mereka telah memekarkan bunga dengan kombinasi ungu putihnya yang
sanggup menarik bibir siapapun yang melihatnya untuk tersenyum lebar. Natural..
“You showed me something that I couldn’t
see” gumam Nadya lalu tersenyum. Ia mengikuti Daffin yang telah duduk di bangku
kecil yang hanya cukup untuk dua orang tepat di pinggir danau. Ia tak menyangka
melihat pemandangan indah ini, teratai yang telah mekar diatas danau kecil yang
masih asri dengan air jernihnya serta ikan-ikan kecil dengan ekor warna-warni
yang berenang kesana kemari di dalamnya, seolah girang dengan kedatangan pengunjung
ke danau kecil yang tak lagi dijamah manusia. Belum lagi kursi kecil yang akan
ia duduki, telah dirambati dengan tumbuhan liar yang tumbuh menjalar dengan
bunga-bunga kecil berwarna merah kuning yang mengiasi setiap tangkai lembut
yang ditumbuhi daun hijau muda yang juga berukuran sedang.
“Fin.. ini keren banget..” Nadya
menghempaskan badannya di sebelah Daffin, ia masih mendecak kagum atas keindahan
natural yang dipersembahkan alam untuk mereka. Hening. Suasana hening setelah
ucapan Nadya tidak mendapat respon apapun dari Daffin.
“Seperti yang lo bilang, bahkan lo lebih
dari bekas taman ini..” Daffin tersenyum simpul, Nadya menatap Daffin tajam,
mencari arti dari apa yang baru Daffin ucapkan.
“Lo lebih indah, lo lebih natural..”
Lanjut Daffin tak mengubah titik fokusnya pada teratai yang belum mekar
bunganya. Nadya hanya terdiam, jujur ia
bingung ia harus senang atau sedih? Ia tak mau jika ia
terbawa lagi oleh angin harapan yang saat ini diucapkan langsung oleh
harapannya. Ia tak mempercayai harapan itu lagi.
“Lo ikut aja lomba itu..” Ucap
Daffin, kini fokusnya tak lagi pada teratai. Namun pada Nadya yang ia anggap
lebih indah dari teratai itu.
“Gak usah takut sama Flara yang kata lo
perfect. Dia cuma murid pindahan yang belum jelas asal-usulnya bisa aja kan dia
bohong buat bikin dia populer dan
terlihat waaaw di depan kalian?”
terang Daffin meyakinkan, ia menekan kata ‘waaw’nya. “Karena lo gak tau siapa
lo yang sebenernya..” lanjut Daffin lagi.
“Tapi gue gak yakin. Gue gak yakin sama diri gue, gue
gak yakin sama tulisan-tulisan gue.
Gue cuma
nona tidak populer di SMAN 18..” Lirih Nadya.
“Lo liat danau yang di depan kita? Apa lo bakal nyangka kalo di
tengah lahan gak terurus bahkan sering dibilang gak berguna bakal ada tempat
seindah ini? ” Tanya Daffin. Nadya menggeleng lemah.
“Lo juga bisa kayak tempat ini,
tersembunyi, diam, dan gak populer tapi punya keindahan natural yang gak
dimiliki sembarang orang. Lo bisa populer dengan cara lo sendiri. Gue aja yakin sama lo kenapa lo gak
yakin sama diri lo sendiri? ” Lanjut Daffin. Kini tangannya menggenggam erat
tangan Nadya yang melemah di atas bangku yang saat ini mereka duduki.
”Kalo lo mau tau keistimewaan lo, lo
harus eksplorasi. Lo harus coba dan percaya..” Daffin meyakinkan Nadya yang
memandang lurus ke depan.
“Gue
akan coba, Fin..”ucapnya pelan.
***
Setelah dibujuk Daffin, Nadya
semangat untuk mengikuti lomba menulis tingkat provinsi tersebut. Ia tak segan
lagi menulis namanya di bawah hasil karyanya yang selama ini selalu tertulis
“no name”. Ia mulai berani menatap apapun yang ada di depannya, lebih berani
menyampaikan argumennya di depan kelas maupun di acara sekolah. Nadya telah
berpuluh-puluh langkah lebih maju dari yang sebelumnya.
“Eh, bego! Lo
itu gak usah sok tau yaa. Lo mau nyalahin jawaban gue?” Gertak Flara pada Nadya yang
menyanggah pendapatnya dalam diskusi pelajaran kimia.
“Tapi Flara.. jawaban kamu memang salah
total, jawaban Nadya yang betul..” Pak Handi melerai lalu mengembalikan buku
mereka.
“See?”
Nadya tersenyum miring meremehkan Flara yang tertunduk menahan malu bercampur
marahnya.
“Ternyata, selama ini karangan-karangan
ini yang buat si bego? Huh,
pantes aja sekarang dia lebih pede..” dengus Flara saat membaca cerpen Nadya di
mading. Selama ini, diam-diam Flara memang menyukai cerpen yang ditempel di
mading dengan author no name
nya.
“Eh.. tunggu, ini lomba nulis?” Ia
membaca browser yang ada tepat di sebelah cerpen Nadya.“Gue harus ikut, dan gue gak mau si bego itu ikut. Pasti
dia bakal ngalahin gue..”
dengan Liciknya Flara menyobek browser lomba tersebut yang sebenarnya sudah
dibaca Nadya lebih awal, dan membuangnya ke tong sampah.
“Eh, gue
diutus sekolah buat lomba cerpen tingkat nasional looh..” Heboh Flara saat
memasuki kelasnya. Nadya yang mendengar agak kaget dan tercengang sebentar,
“Fin..” Lirih Nadya pada Daffin yang
berada di sebelahnya.
“Lo jangan percaya siapapun. Lo cukup
percaya dan dengerin omongan gue
sama ibu lo..” Daffin mengusap pundak Nadya lembut.
Memang, sejak tadi jam pelajaran sedang
kosong karena guru-guru sedang
rapat. Sejak pelajaran pertama Daffin memang ke kelas Nadya, menemaninya
menulis cerpen untuk lomba besok.
“Eh,
ada Daffin, ngapain sih deket-deket si bego? Mendingan
deket gue, lo gak level sama diaa,” Ucap Flara dengan angkuhnya dan
menunjuk Nadya yang sibuk berkutat dengan laptopnya.
“Eh, lo denger ya! Lo yang bego dan gue lebih gak level lagi sama lo,
jangan ngarep lo bisa selevel sama gue.”
Balas Daffin tak kalah angkuh, lalu kembali memperhatikan Nadya. Flara
menendang kursi di seberang meja Nadya dan meninggalkan mereka.
“Gue
gak nyangka sama Daffin, ini
kayak dongeng, dream come true.” batin Nadya. Ia sedikit kaget mendengar seorang Daffin bisa berkata kasar.
Sementara Daffin terkekeh melihat layar laptop
Nadya, “Kenapa lo gak nyangka sama gue? Emang lo mau banget ya kayak di
dongeng-dongeng?” bisik Daffin di telinga Nadya.
“Hah..”
Nadya menganga, lalu menatap wajah Daffin
yang menyunggingkan senyum manisnya dan sangat dekat dengannya. Ia
menatap wajah Daffin yang tak henti-hentinya tersenyum, ia bingung kenapa
Daffin bisa membaca fikirannya.
Daffin mengarahkan kepala Nadya yang
tadinya menatap Daffin, lalu ia menunjuk layar laptopnya dengan telunjuknya.
Mata Nadya membola, buru-buru ia menutup layar laptopnya dan pergi meninggalkan
Daffin.
“Naaad..!! Lo mau kemanaa? Hahaa! ”
Daffin masih sempat tertawa saat ia mengejar Nadya.
“Malu,
sumpah gue pengen ganti muka..” ucap Nadya.
Saat ini ia berada di bawah pohon di belakang sekolahnya.
Ya, saat membatin tentang Daffin,
Nadya menulis apa yang ada dalam fikirannya di laptop. Tak sadar, ia menuliskan
fikirannya tentang Daffin di bawah cerpennya, kurang lebih seperti itu.
“Mau lo ganti muka juga gue masih bisa ngenalin lo kalee!” Jawab Daffin yang ternyata
mendengar ucapan konyol Nadya dan langsung menyandarkan badannya di balik pohon
yang juga Nadya sandari.
“Gimana bisa lo ngenalin gue? Kan gue
udah ganti muka..” Remeh Nadya.
“Karna lo gak ganti hati.. ” jawab
Daffin menjawab enteng.
“Mau gimanapun, hati lo pasti gak berubah
buat gue..” Batin Daffin menatap Nadya
dengan senyumnya.
“Maksud lo gimana sih, Fin? Ah
absurd lo.” Nadya menepuk pundak Daffin.
“Gak usah difikirin, fikirin tuh lomba cerpen lo! Hahaha” Nadya sedikit muram
mendengar ucapan Daffin. Wajah sumringahnya murung, senyum lebarnya berbalik
sudut, sangat murung.
“Kenapa? Lo takut sama Flara?” Tebak
Daffin, Nadya mengangguk cepat tanpa bergeming dari tatapan merunduknya.
“Lo denger gue, lo liat gue. Lo harus percaya no body perfect,
everyone is unique. Seperti danau di tengan bekas taman itu. Setiap orang punya
keindahan dan kemampuan yang hanya bisa dilihat sama si empunya dan orang lain
yang cinta sama dia..” Daffin mengangkat dagu Nadya agar bisa menghadapnya, kedua bola mta Daffin
menatap teduh ke arah Nadya yang masih membuang jauh pandangannya ke bawah.
“Lo percaya gue?” Tanya Daffin yang dibalas
anggukan pelan oleh Nadya.
“Lo percaya kata-kata gue tadi?” ulang Daffin, flash-flash
kecil menyilaukan fikiran Nadya sejenak
“Setiap
orang punya keindahan dan kemampuan yang hanya bisa dilihat sama si empunya dan
orang lain yang cinta sama dia..”
“Cinta?”
bisiknya pelan setelah mengingat ucapan Daffin tadi.
“Apa lo percaya keajaiban?” tanya Daffin
lagi. Nadya menggeleng cepat,
“Gak.. Keajaiban itu cuma mimpi yang gak
bakal bisa dateng di dunia nyata buat gue..”
Nadya membuang wajahnya yang sejak tadi menghadap Daffin.
“Gue
adalah orang yang bakal tunjukkin ke lo kalo keajaiban itu ada. Sekarang
lanjutin tulisan lo.” Ucapan Daffin agak membingungkan Nadya. Namun Nadya tidak
menghiraukannya, ia percaya karena Daffin mempercayainya, ia semangat karena
semangatnya menyemangatinya secara langsung. Ia tak peduli pada apapun yang
menerjang langkah majunya, karena saat ini rasa pedulinya hanya mempedulikannya,
hanya Nadya seorang. Ia sedikit berani bermimpi lebih dalam karena mimpi datang
menghampiri ke dunia nyata.
“Terima kasih
semangat, terima kasih
peduli,terima kasih
mimpi..” Batinnya tersenyum dan mulai mengetik syair yang sempat terputus.
***
Seulas
senyum kecil namun tulus sangat menggambarkan suasana hati Nadya yang sedang
cukup baik. Ia telah melangkah berpuluh-puluh langkah lebih baik dari Nadya
yang sebelumnya, yang sebelumnya berjalan terburu dengan langkah tertunduk
tanpa sedikit saja senyum. Bad girl, nona tidak populer. Namun itu dulu,
sekarang Nadya lebih percaya diri, berjalan santai, mengangkat pandangannya
pertanda ia siap menatap apapun yang ada di depannya. Daffin lah yang merubah
diri Nadya.
“You change
everything..” Ucap Nadya pelan setelah melewati Daffin yang baru saja
melambaikan tangannya dari lapangan pertanda ia menyapa Nadya.
“Lo
sama Daffin itu kayak punuk merindukan rembulan.” Ucap seseorang dari sisi
kanan Nadya. ‘Deggg.’ Baru beberapa saat ia merasa semangatnya benar-benar
terpompa sampai puncak, sebuah suara menendang semangatnya itu jauh-jauh untuk
masuk ke jurang. Sedikit namun cukup menyakitkan dan menekan hembusan nafas
Nadya dalam-dalam. Nadya mengalihkan pandangan lurusnya ke arah kanan, senyum kecil
namun miris menyakitkan ia sunggingkan sebagai tanda ia menyapa orang-orang
yang berdiri di sisi kanannya.
“Lo mau
manfaatin Daffin, buat ajang lo jadi nona yang mendadak populer, biar lo punya
nama dan di kenal sama seantero sekolah? Oh, atau bahkan lo mau terkenal sampe
sekolah lain karena status lo yang deket sama Daffin kapten basket yang keren,
jenius yang siapapun tergila-gila dan mau banget jadi pacarnya? Iya?” Bahkan
Nadya belum menjawab, cercaan demi cercaan dengan nada kecil namun sengit
sukses masuk ke telinga dan menancap tepat di hatinya, demi Tuhan itu rasanya sakit.
Apalagi Nadya sama sekali tak mengenali wajah-wajah orang yang saat ini
menatapnya dengan tatapan sinis dan menakutkan itu.
“Ta..
Tapi apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanya Nadya pelan. Pertanyaan bodoh
sebenarnya, namun Nadya speechless ia tak tau harus bertanya atau menjawab apa.
Keempat orang yang berada di sisi kanan Nadya berjalan pelan mendekati Nadya,
menatapnya geram, garang, dan amat sinis.
“Dasar nona
tidak populer. Gue juga sebelumnya belum pernah liat lo..” Jawab salah seorang
dari mereka sambil sedikit memainkan rambut ikal Nadya, lalu menjambaknya.
“Arrgh!” Nadya
mengerang, kepalanya condong ke kanan, ia tak ingin melawan karena kulit
kepalanya sudah cukup panas menahan tarikan dari rambutnya yang masih
dicengkeram kuat.
“Tolong lepasin!
Gue bukan siapa-siapanya Daffin. Gue baru kenal Daffin..” Berhasil, ucapan
Nadya berhasil membuat cengkeraman di rambutnya terlepas. Namun tak berapa
lama, seseroang lainnya menyiram wajah Nadya dengan minuman soda berwarna
merah, disusul dengan es jeruk yang lancar mengalir dari atas kepala Nadya.
“Lo itu bulshit!!” Mereka meninggalkan Nadya
sendiri setelah sebelumnya melemparkan gelas minuman mereka ke wajah Nadya.
“Nad..
” Nadya menoleh ke belakang karena merasa namanya di panggil dan pundaknya di
pegang oleh seseorang di belakangnya.
“Nad, ini masih
pagi.. Kenapa lo basah-basahaaan?” Nadya memasang wajah kesal mendengar
pertanyaan konyol dari orang yang menepuk pundaknya tadi.
“Daffin!!! Gue
disiram! Udah ah, minggir.. Gue mau ke kamar mandi.” Nadya mendorong bahu
Daffin, lalu berlari menuju kamar mandi.
Ia menatap
matanya dalam-dalam melalui cermin yang lumayan besar di kamar mandi. Melalui
pantulan dirinya, ia melihat kedua mata indahnya mulai mengeluarkan tetesan air
dari sudut-sudutnya.
“Ngapain Lo
nangis? Kenapa? Lo gak terima dikatain punuk merindukan rembulan sama anak-anak
tadi? Emang bener kok. Lo gak usah ngarep tinggi-tinggi Naad, hahaahaa!! Mimpi
lo ketinggian bego!” Nadya menghapus air matanya kasar, lalu mulai
mengata-ngatai dirinya sendiri yang tengah berdiri di depan cermin.
“Lo kenapa sih? Gue
punya salah apa sama lo?” Daffin menatap Nadya yang hanya memberinya tatapan
dan tanggapan datar terhadap kata-kata guyon Daffin.
“Bukan lo yang
salah, tapi gue..” Jawab Nadya singkat, namun cukup membuat otak Daffin
berputar keras.
“Lo?”
“Udah deh Fin, lo jangan deket-deket gue lagi,
fans lo pada salah sangkaa..” Nadya memotong omongan Nadya cepat, lalu
mengambil langkah seribu untuk meninggalkan Daffin di meja kantin sendiri.
Lalu bagaimana
dengan lomba cerpen? Dua hari lagi Nadya akan berangkat ke Jakarta untuk
menghadiri pengumuman pemenang lomba cerpen tingkat nasional itu, karena cerpen
Nadya memang telah dikirimkan 3 hari yang lalu.
“Bener. Gue cuma punuk merindukan rembulan..”
Nadya berujar kecil dengan seulas senyum miris yang tersungging di bibir cherry
nya, tangan kanannya melempari danau kecil yang tak tau apa-apa dengan batu
kerikil di pinggiran danau.
“Lo tau gak, gue gak ada maksud sama sekali
untuk manfaatin kepopulerannya Daffin, gak pernah terfikir malah. Karena dari
Daffin gue percaya kalo gue bisa populer dengan cara gue sendiri, gue cukup
jadi diri gue sendiri..” Nadya mencurahkan beban hatinya pada danau yang seolah
mengangguk mendengar ceritanya dengan riak-riak kecil yang ditimbulkan oleh batu
kerikil yang Nadya lempar ke dalamnya.
“Lo salah Nad. Gue
yang punuk. Lo yang rembulan..” Daffin memandang Nadya dari sisi danau yang
lain, namun dari kejauhan ia dapat mendengar ucapan-ucapan kecil Nadya.
Daffin hanya memandang Nadya dari kejauhan, ia
bertekad akan menahan dirinya sampai hasil lomba cerpen itu diumumkan. Daffin? Menahan
diri? Untuk apa? Daffin menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Nadya
terlebih dahulu, karena ia agak mengerti dengan kata-kata FANS yang dimaksud
Nadya.
“Lagian kenapa
gue harus gini sih? Bukannya ini perasaan gue? Kenapa gue jadi mikirin
orang-orang itu sih?” Daffin menggumam sendiri sambil terus mengawasi Nadya
yang duduk sendiri di pinggir danau.
“Gue bodoh. Tapi
gue gak sendirian, diluar sana banyak kok cewek-cewek bodoh lain yang baru
dikasih perhatian dikit udah langsung melting, pas statusnya gak jelas mereka
bilang ke cowok itu php. Bener, gue bodoh. Ya mana mungkin lah, seorang Daffin
suka sama gue? Beda banget gue sama dia. Dia populer, bisa pilih siapa aja buat
dijadiin pacarnya.” Kata Nadya yang menganggap dirinya sendirian dengan
sejelas-jelasnya.
“Iya, lo bener,
Nad.. Dan sekarang gue mau pilih lo buat jadi pacar gue.” Gumam Daffin dari
jauh. Nadya masih tidak sadar ia sendirian, ia masih meracau dengan jelas,
mengeluarkan apa-apa yang mengganggu fikirannya, termasuk tentang Daffin yang
ia anggap sebagai rembulan di atas sana, yang sampai saat ini masih ia masukkan
ke dalam daftar impossible thing, mimpi yang tidak akan menjadi nyata, cukup
memotivasinya untuk terus berpacu melawan aral mengejar mimpi.
“Gue malu
sebagai cowok. Kata-kata itu bahkan gak pernah terucap langsung dari bibir gue,
Nad..” Ia mengulum senyum dari jaraknya.. Daffin, Nadya’s impossible thing.
“Setelah tiga
hari ini, Nad percaya sama gue, semuanya gak bakal jadi impossible thing lagi
buat lo. Gue juga punya perasaan yang sama, Nad..” Lanjutnya. Daffin tersenyum
lalu berjalan menjauh dari tempat itu.
***
Pagi ini Nadya
dibuat ternganga-nganga oleh notifikasi email dari smartphone nya. Raga yang
diyakini baru terisi seperempat nyawa itu kaku lemas, wajahnya pasi lidahnya
kelu, bersyukur smartphone yang membuatnya menabung mati-matian untuk
menebusnya dari ‘penjara’ tak merosot dari tangan landainya. Sesuai janji
panitia, dua minggu lagi hasil pengumuman lomba itu akan diumumkan, Flara telah
berkoar-koar bahwa dua minggu lagi namanya akan terpampang nyata di headline
koran, dua minggu lagi Nadya akan berakhir di garis finish, atau tersungkur
ditengah medan perang, atau berlari melewati garis finish dengan sebuket bunga
digenggamannya. Well, penjelasan ketiga tak masuk dalam kategori janji,
melainkan macam-macam kemungkinan yang akan terjadi. Dua minggu itu jatuh hari
ini, dua minggu lalu Nadya memutuskan membuka jubah, dua minggu lalu ia lewati
dengan sangat berkesan -thanks to
Daffin’s odd fans- dan genap sebelas hari, satu minggu lebih empat hari
Nadya hampir mati dihisap sepi karena tak ada Daffin di sebelahnya. Oke, untuk
yang ini agak aneh. Toh biasanya Nadya memang selalu sendiri. Sebelas hari ini
Nadya sibuk mengutuk dirinya sendiri dengan berbagai sumpah serapah setelah
berani-beraninya lari dari Daffin yang kedapatan dengan repot-repot menunggunya
mencari inspirasi di pinggir danau kecil itu sambil berteriak bar-bar ‘Lo gak usah deket-deket sama gue lagi.
Sebelum gue kenal sama lo, hidup gue udah cukup nyaman. Gue gak suka diusik
sama fans-fans lo! Gue butuh ketenangan tau gaak!! Pergi lo dari sini! Oke kalo
lo gak mau, biar gue yang enyah dari sini!’ Makian-makiannya masih terekam
jelas di kepalanya. Daffin menanggapinya dengan senyum bijak, yang membuat
Nadya enyah dari tempat itu sesegera mungkin.
‘Gue tunggu lo, sebelas hari lagi- DGR’ Dari tulisan tangannya, bahkan inisial diujung kata. Seratus ribu persen Nadya berani
mempertaruhkan harga dirinya bahwa itu dari Daffin. Nadya yang cukup lelah bahkan muak membuang sticky notes itu asal setelah
mencabik-cabiknya garang.
Dua hari dalam
sebelas hari itu, fans-fans Daffin
yang freak masih tetap membuatnya tak menjalankan ketenangan hidup di sekolah.
Mulai dari membuang bangkunya ke tengah lapangan, menyangkutkan tasnya ke lring
basket hingga yang paling parah menguncinya di kamar mandi sekolah. Thanks to Daffin yang selalu menjadi
pangeran berkuda putih untuk Nadya dan terkutuklah Nadya yang semakin membenci
Daffin dengan alibi yang selalu berkata ‘Ini
semua karena Daffin’ setiap ia dijadikan ‘bahan’ oleh odd fans-nya Daffin.
Dua hari setelah Nadya menjauhi Daffin, ke-freak-an kelakuan fans
Daffin mulai mereda, sekolah Nadya aman tentram seperti semula, kedamaian yang
selama ini ia rindukan telah kembali, itu eksternalnya, namun dari faktor
internal –oke sebut saja ini urusan hati
dan perasaan serta antekantek yang termasuk di dalamnya- ia lebih banyak
merenung dari pada menjaring banyak-banyak inspirasi, hatinya kosong, tak ada
perlawanan terhadap Flara yang membuat Flara juga gak mood untuk adu mulut dengannya. Mading sepi, sesepi hari-hari
dalam diri Nadya. Ya, dengan sejuta imajinasi, ia punya hari-hari lain dalam
dirinya.
Nadya tahu ia
sangat menyukai Daffin bahkan menandai cowok impossible itu sebagai favoritnya. Tapi sebelum ini dia sangat
baik-baik saja bahkan tanpa bertukar sedikit kata pun dengan Daffin. “Mungkin
ini syndrom lebih baik gak usah kenal sekalian daripada gak bisa memiliki, atau
terlanjur basah ya sudah basah sekalian” Ia menggumam suatu hari di pinggir
danau.
Tanpa ia tahu,
sepasang mata menatapnya nanar, Daffin. Cowok itu –setelah memperingatkan
fansnya untuk tak lagi-lagi mengganggu Nadya- menepati permintaan Nadya
benar-benar tak muncul di depannya bahkan sebisa mungkin menghindar atau
berbalik arah jika terpaksa mengambil rute yang sama dengan Nadya di koridor
atau bahkan saat menuju kamar mandi sekalipun.
“Sebentar lagi,
Nad.. Sebentar lagi.” Ia menyudahi acara mengintip Nadya dari balik semak-semak
lalu duduk bersandar pada pohon besar yang mampu menutupi tubuhnya sampai
mendengar gesekan-gesekan kecil pada ilalang yang menandakan Nadya akan pergi
dari tempat itu. Ya, ini sudah ia lakukan sebelas hari belakangan setelah
teriakan bar-bar dari mulut Nadya.
Berbeda dengan
Daffin, sebelas hari ini ia bertanya pada dirinya sendiri, atau kalau ia sudah
mulai muak ia bertanya pada pucuk teratai yang menguning “Lo tau gak kenapa gue
begini? Harusnya gue bisa nulis beratus-ratus lembar tau dalam dua minggu ini.
Tapi kenapa gue gak bisa, tangan gue gak mau gerak kayak biasanya. Otak gue?
Hahahah! Otak gue? Gue gak tau otak gue masih apa enggak. Hati? Hati gue? Gue
juga gak tau. Kadang kerasa sakit, kadang kerasa kosong, kadang gak kerasa
apa-apa. Hati bisa ilang-ilangan gitu ya? Gue baru tau”
“Dan gue baru
tau juga kalo ke-puitis-an lo udah se-freak ini, Nad” Dari balik semak-semak
Daffin terkekeh geli tanpa suara, mendengar celotehan-celotehan gadis yang
selalu menjaga wibawa di depannya. “Tapi tenang, Nad. Gue cinta lo apa adanya
kok.” Lanjutnya.
“Disini sakit,
disini kosong.. disini sakit.. disini kosong.” Nadya mengulang pernyataan yang
sama sambil bergantian memegang dada dan kepalanya nadanya merengek. Mana tahan
Daffin untuk tak meledakkan tawanya? Ia menggigit handuk nya keras-keras
sebagai pelampiasan.
“Oh...” Daffin
kembali berkonsentrasi pada Nadya yang mulai bicara lagi.
“Jadi maksud lo,
hati gue sakit karena gak ada Daffin gitu? Terus otak gue.. Otak gue yang
biasanya penuh inspirasi ini kosong karena gak ada Daffin juga gitu?” Terus
berceloteh seolah punya lawan bicara, itulah yang Nadya lakukan sekarang. “Iya
iya.. Lo bener. Emang dia kan inspirasi setiap tulisan gue ya.. Apa? Ke sini?
Gak mungkin lah. Kemarin gue bentak dia supaya dia jauh-jauh dari gue. Huaaaa,
panggil Daffin.. Panggil Daffin biar gue gak sakit lagi. Huaaa” Ia merengekk
frustasi. Sebentar lagi pasti ambulan rumah sakit jiwa akan terparkir gagah di
depan rumah Nadya jika ia terus-terusan begini.
Di balik semak,
Daffin masih menahan tawanya “Gue disini, Nad..” Ingin rasanya berlari menembus
semak lalu bertengger keren di spasi kosong sebelah Nadya lalu mengusap pundaknya
pelan. “Ya Allah, kalo Nadya memang jodohku, hamba rela. Menerima segala
kekurangan dan kelebihan yang ada, tolong Ya Allah, percepatlah waktu untuk
memutus kemungkinan dibawanya Nadya ke rumah sakit jiwa. Amin..” Terselip lawak
dalam doanya, untuk doa bait pertama tidak. Ia serius. Bahkan bukan lagi rela,
tapi memohon.
***
Dan hari dimana tepat dua minggu itu datang.
Iya, hari ini. Setelah pulang sekolah Nadya menuju ke danau seperti biasa,
alih-alih untuk mencari inspirasi, yang ada ia malah melamun dengan fikiran
berkecamuk luar biasa di sana. Sepi, yah biasanya juga memang seperti ini. Ada
yang beda saat ia melewati rute nya, ilalang itu memang masih sangat
tinggi-tinggi bahkan mencapai pundaknya, tapi rute yang selalu ia lewati
menjadi bersih, bayangkan saja jalan setapak yang lebar di tengah ilalang yang
tinggi. Jalan setapak ada yang lebar? Well
pen-deskripsi-an yang konyol. Ia tak peduli, mungin ilalang-lalang itu telah
lelah menjadi pijakan kaki Nadya yang mendadak buas jika sedang badmood. Tapi tunggu, ini seperti dibabat,
dan cukup untuk dilweati dua orang. Dua orang? Apa ada yang mengetahui tempat
rahasia nya err—bersama Daffin? Ia
terus melangkah menujun singasananya, tak ada yang berubah dibawah sana. Yang
berubah adalah, sisi kanan bangkunya akan tetap kosong hingga waktu yang tak
ditentukan. Atau yang lebih meyedihkan lagi, tak menutup kemungkinan juga untuk
selamanya. Selamanya Nadya akan duduk sendiri, selamanya Nadya akan memuja
Daffin, dan selamanya Nadya akan tenggelam dalam sesal. Kenapa sesal yang
menenggelamkannya tak membunuhnya saja biar urusan nya selesai? Tuh kan Nadya mulai mellow lagi.
Terhitung lima
detik duduk di singasananya, terhitung pula dua kali ia mendengar langkah yang
menggilas ilalang kering dengan renyah. Siapa? Pikirnya. Lalu melayang,
jangan-jangan hantu, jangan-jangan rampok atau bahkan pembunuh yang
bersembunyi, jangan-jangan buaya, ah! Jangan-jangan itu Daffin. Untuk jangan-jangan yang terakhir ia memukul
pelan bibirnya.
“Gak mungkin
lah.”
“Apa yang gak
mungkin lah?” Seseorang dengan suara berat meng-edit setelah meng-copas
kata-katanya.
Nadya buru-buru
menyampirkan tasnya ke pundak dan bersiap mengambil langkah seribu setelah
mendapati jawaban siapa sosok dengan langkah renyah itu. Daffin. Seketika itu
hati Nadya jatuh dari tempat tinggi lalu pecah dengan suara yang tak kalah
renyah juga. ‘hatiku jatuh dengan renyah,
aku harus segera enyah sebelum hatiku disapu angin dan aku tak bisa membuatnya
utuh kembali’ Sempat-sempatnya Nadya menemukan bait monolognya dalam acara tukar-pandang-terpaku nya dengan Daffin.
Ia merutuki
dirinya ‘tuh kan bener, dia emang
inspirasi gue, selang infus gue, air minum gue, saputangan gue, baru lima detik
aja gue udah bisa bikin satu bait. Gimana sejam coba ahh!! Bener lah, wajar lah
kalo gue bebel selama ini. bener-bener because of him.’
“Yakin, lo mau
melepaskan kesempatan emas lo untuk menyerap inspirasi dari gue, your main inspirator?” Daffin tersenyum
geli melihat Nadya tergopoh pergi dari hadapannya.
“Nad,” Ia
menghentikan katanya setelah Nadya menghentikan langkahnya.
“Maafin gue”
Nadya memotong omongan Daffin.
“Temenin gue
disini, Nad.. Rasanya gak adil banget ngeliat lo duduk disini bareng teratai
temuan gue, gak gatel-gatel, sementara gue diatas gatel-gatel kena ilalang,
kepanasan juga.. ”
“Hah?” Hanya itu
yang keluar dari tampang bodoh Nadya.
“Makanya sini
duduk dulu.” Daffin membawa tangan Nadya lalu duduk bersebalahan dengannya,
mengisi space kosong itu, mengisi sedikit demi sedikit pundi-pundi udara untuk
ruang hampa dalam hati Nadya.
“Selamat yaaaa”
Daffin menyalami Nadya.
“Gue cuma juara dua.
But, thanks” Kata Nadya sekenanya.
“Dan sekarang julukan gw bertambah jadi Nadya
si nomor dua”
“Biarin aja,
mereka orang-orang bodoh yang cuma mau menghargai hasilnya, bukan prosesnya.
Toh walaupun lo nomor dua di mata mereka, lo tetep jadi nomor satu kok. Buat
ibu lo, dan buat gue.”
“Hah” Itu agi
yang keluar bersama tampang cengo Nadya.
“Lo kebanyakan
ngerangkai kata tapi gak belajar banyak kata.” Ejek Daffin.
“Maksud lo?”
Sergah Nadya tak terima.
“Langsung ke
intinya aja deh, gue mau lo jadi pacar gue.” Daffin dengan tegas.
“Gak ada
pertanyaan?” Kernyitan dalam pada alis Nadya berbanding lurus dengan dalamnya
keheranan atas sikap pede Daffin. ‘gila’ batinnya.
“Ngapain kalo
udah ada jawabannya.” Daffin tersenyum penuh kemenangan. Diceritakannya
satu-satu segala yang ia lakukan selama sebelas hari ini, dari bertemu dengan fans-fans nya yang freak hingga
membuntuti Nadya.
“Gila lo,
pelanggaran HAM ini mah!” Nadya tak terima. “Berarti lo..”
“Off course,
babe!” Daffin mengerti akan menjurus kemana pertanyaan itu, ya kemana lagi
selain ke percakapan aneh Nadya dan teratai kuning itu. “Kartu as lo ada di
gue, Nadya~” Ia mencetikkan jarinya di depan wajah Nadya.
“Ini gak adil!!”
Pekik Nadya. Lalu berlari meninggalkan Daffin di danau itu. Wajahnya memerah,
seratus persen sudah pasti.
“Nad!! Naaad!!
Hahahahah!” Daffin mengejarnya dengan ledakan tawa. Mau Nadya berlari hingga ke
rumahnya juga, Daffin sudah punya jawaban di kantongnya. Ya. Nadya sekarang
jadi pacarnya dan ia jadi pacar Nadya. Ia tahu tak mungkin sampai sini
ceritanya. Tapi ia sudah menyiapkan diri untuk sifat-sifat yang mungkin masih
tertimbun dalam-dalam di dalam kepribadian Nadya.
“Nadyaaa!! Hari
ini hari pertama kita jadian kan yaaa!! Ayo gue anter pulaaang!!” Konyol!
Konyol! Teriakan norak Daffin sang cowok kece tepat di depan koridor yang
berhadapan dengan gerbang sekolah menjadikan Nadya bulan-bulanan tatapan
makhluk-makhluk sekolah, dari yang sinis hingga bahagia geli melihat tingkah
keduanya.
“Lo yaaa!!”
Nadya berbalik dan menjewer telinga Daffin.
“Nad! Gue aduin
lo ke KPAI ntar, Nad!! Sakit, Naaad!!”
“Lo yang bakal
gue jerat dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!! Ayo pulang!!”
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar